Page 112 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 112

“Such a Small World, eh?”


              Dimas membolak-balik majalah itu, dan tiba-tiba ber henti
           di satu artikel. “Sepertinya ada,” gumamnya pelan.

              “Mana coba, manusia kuper ini kepingin tahu.”
              “Lihat ini,” Dimas menyorongkan artikel dengan foto
           seorang pria terpampang besar. “Kamu masih ingat dia,
           nggak?”
              Reuben menajamkan mata. “Ferre?”

              “Ya, Ferre, lulusan Berkeley. Dulu kita pernah bertemu di
           acara ramah tamah PERMIAS. Tahun berapa itu, ya?”
              “Aku ingat. Anak itu sempat ngobrol denganku gara-gara
           kita sama-sama tidak tertarik ikut kepengurusan. Apalagi
           dia, yang dari junior high sudah di Amerika, mana lagi me-
           rasa dirinya mahasiswa pendatang.”
              “Geng konsulat?”
              “Lebih parah. Geng imigran. Dia muncul di acara itu,

           kan, cuma gara-gara diajak sobatnya.”
              “Adiknya si Miranda itu, kan? Siapa namanya...?”
              “Rafael!”
              “Alé! Nama panggilannya Alé. Miranda, kan, tetangga ku
           di Kebayoran Baru. Dulu waktu masih SD-SMP, aku sering

           main ke rumahnya.”
              “Such a small world, eh?  Rafael itu pernah numpang di
           flat-ku waktu dia baru datang ke Baltimore. Eh, baru dua
           minggu dia sudah pindah. Nggak betah, katanya. Balti more
           nggak ada apa-apaan, akhirnya dia minggat ke SF,” tutur





                                                                 101
   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117