Page 108 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 108
Bintang Jatuh
an Bapak itu. Orang-orang diajarkan untuk berpikir parsial,
tidak menyeluruh, timpang. Makanya kalau ngo mong suka
ngaco dan bikin keputusan simpang siur. Aro gansi penge ta-
huan yang berlebih, arogansi agama yang berlebih, arogansi
budaya yang berlebih, itu semua karena pendidikan yang
basisnya parsial. Sementara konteks utamanya malah diteng-
gelamkan,” jelasnya berapi-api.
“Walah, yo wis, wis, kamu beli ijazah saja, deh. Nanti biar
bisa jadi dosen. Ada kenalanku yang bisa mengurus serti-
fikasinya. Langsung S-3 juga bisa,” cerocos Pak Mar gono,
ke walahan.
“Sudahlah, Pak,” potong Diva malas, “tunggu sampai saya
bikin sekolah sendiri saja. Sekolah yang kasih ilmu, bukan
kasih titel.”
“Asyik, nanti Bapak boleh, dong, mengajar di sana,” ce-
letuknya genit.
“Ya, mana boleh. Produknya nanti kayak Bapak semua,
dong. Mau jadi apa bangsa ini—”
“Panggil aku Margo, Cantik.”
Diva makin tidak habis pikir.
Pak Margono mulai gelisah. Bolak-balik lihat jam. “Div,
ini sudah sebelas menit, kok, belum ada apa-apaan, ya?”
“Nggak usah dipaksakan, Pak,” Diva nyengir, “saya bisa
pergi dari sini. Full refund.”
“Aduh, piye iki? Mungkin kamu mesti bugil dulu! Atau
apalah! Bikin apa gitu sama aku!” Lelaki itu panik sung-
guhan.
97

