Page 116 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 116
Cinta tidak Butuh tali
“Tiap kali kita kangen, kita coret garis di kertas, terus
kita hitung mulai dari jam kita bangun sampai tidur, baru
kita saling melapor dan menghitung siapa yang paling ba-
nyak. Tapi, jujur, ya. Awas kalau nggak.”
Re berpikir sejenak, senyumnya pun melebar. “Boleh. Ta-
ruhannya apa?”
“Yang kalah harus membuatkan puisi.”
“Puisi? Itu nggak adil namanya. Kamu penulis, terlalu
mudah untuk kamu membuat puisi.”
“Kamu keliru, Sayang. Aku memang sering menulis, tapi
karena harus. Puisi membutuhkan lebih dari sekadar jam
ter bang. Ingat, aku pernah bilang soal pekerjaan yang masih
punya ruang untuk inspirasi? Penulis puisi bukan hanya
men dengar ketukan inspirasi di pintunya. Dia me robohkan
se luruh dinding. Inspirasi nggak perlu lagi ngomong per-
misi.”
Inspirasi. Kata itu mengempaskannya kembali ke lo rong-
lorong gelap masa lalu. Kenangan beranak kenangan.
Dulu aku adalah pujangga.
Seorang arwah pujangga tersasar masuk
ke dalam tubuh mungilku.
Dulu aku berkata-kata bak mutiara nan wangi.
Dan, mutiara sangatlah aneh di tengah batu kali.
Pikiranku bagai seribu persimpangan
dalam sekotak korek api.
Karena itulah aku anomali.
105

