Page 115 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 115

KEPING 9


             “Rana...?”
             Mata kekasihnya  nanar,  menahan  pilu.  “Hatiku  rasanya

           masih meleleh setiap kali kamu memanggilku ‘Putri’,” Rana
           berkata lirih.
             “Suami kamu tidak cemburu sama si Kariage?” balas Re,
           tidak mengindahkan.
             “Kadang-kadang, apalagi kalau aku ketawanya sen dirian.”

             “Heran. Aku, kok, malah senang lihat kamu baca ko mik
           ini.”
             Mata Rana kembali punya sinar. “Alasannya?”
             “Bagiku, adalah keindahan melihat kamu asyik di alam-
           mu sendiri. Kamu benar-benar tenggelam, lupa ling kungan,
           kening kamu kerut-kerut sampai akhirnya ketawa meledak
           sendirian. Lucu.”
             “Kamu memang mencintaiku dengan tepat, Ferre.”


                      Aku mencintaimu sepenuh hati, Putri.
                         Tak peduli lagi tepat atau tidak.
                Tak peduli kau menyadari aku hilang atau tampak.
                    Tak peduli kau bahagia dengan diriku atau
                             cuma dengan sel otak.


             “Apa ini?” tanya Re heran ketika disodori sebatang pen sil
           kayu.  Sebuah  pensil  kayu  jelek  hadiah  dari  restoran  yang
           ujung nya diraut sembarangan dengan pisau.
             “Kita buat taruhan, yuk.”
             “Taruhan apa, Putri?” tanya Re pasrah.



           104
   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120