Page 117 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 117

KEPING 9


             “Kamu pasti kalah, Sayang. Jadi, siap-siap merancang
           puisi dari sekarang,” bisik Rana manja.

             Re menatapnya sambil memainkan pensil kayu itu. “Ka-
           mu tahu aku nggak bisa....”
             “Berarti, dari kita nggak boleh ada yang kalah.” Rana
           mengambil tangan kekasihnya, mengecupnya lembut.
             Suara gerimis kembali mengambil alih.

            Sudah kumenangkan taruhan ini, bahkan dengan amat adil.

                 Jauh sebelum kau menyerahkan kertas dan pensil.
                  Karena rinduku menetas sebanyak tetes gerimis.
                     Tidak butuh kertas, atau corengan garis.
                 Genggamlah jantungku dan hitung denyutannya.
                    Sebanyak itulah aku merindukanmu, Putri.

             “Re....”

             “Ya?”
             “Aku menang.”
             “Kok, bisa?”
             “Aku sudah kangen duluan.”
             “Menurut kamu, telepati itu ada tidak?”

             “Kenapa memangnya?”
             “Barusan aku juga memikirkan hal yang sama.”
             “I love you,” Rana mempererat genggamannya.
             “I love you, too, Princess.”
             Di tengah rapat dengan staf keuangannya  yang masih
           berjalan, pikiran Re sudah melesat pergi seliar api mercon.



           106
   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122