Page 107 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 107

KEPING 7


             “Saya  mau  tuh,  Pak,  jadi  yang  meramu-ramu,”  Diva
           langsung menawarkan diri, bersemangat. “Soalnya, saya tidak

           akan hanya mulai dari Marx lalu berhenti di Marx lagi. Saya
           pernah iseng-iseng merangkum pemikirannya Hegel, Feuer-
           bach, Kant, Fichte—semuanya dalam kerang ka Marx. Dan,
           bukan cuma itu, juga  spill-down  pe mi kir annya  Marx;
           Gramsci sampai ke neo-Gramscian. Oh, ya, juga kritiknya

           Habermas. Saya pernah baca ulasan ten tang itu, menarik
           sekali, apalagi yang menyangkut faktor  eman sipatoris ma-
           syarakat.  Tapi, yang lebih penting lagi adalah relevansinya
           dengan kondisi sekarang, dan pemicu awal ide Marx itu
           sendiri, apa yang sebenarnya ia lihat—”
             Pak Margono memotongnya dengan tawa mafhum.
           “Manisku, aku tahu kamu lebih cerdas dari dosen-dosen itu
           semua, tapi kamu itu siapa? Maaf, lho, tanpa bermak sud

           menyinggung.”
             Diva mengangkat bahu ringan.
             “Maksudku, kamu tidak punya latar belakang  civitas
           akademika sama sekali. Kamu tidak punya titel apa-apa, ehm,
           bukan berarti kamu tidak mampu, lho.” Beliau sibuk meralat.

             “Memangnya penikmat ilmu seperti saya ini tidak bisa
           diakui, ya, Pak?”
             “Ya, parameter pengakuannya apa? Kan, mesti ada kuri-
           kulum, ada sistem pengujian, ada pertanggungjawaban hasil
           akhir. Titel ndak dikasih sembarang.”
             “Masalahnya, saya tidak percaya dengan sistem pendi dik-



           96
   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112