Page 152 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 152

Un Sol Em noitE

           nggak bisa menyeretnya cuma karena kita terikat dengan
           keindahannya.  Ia  tetap  berarti kalau  kita  membiar kannya

           lewat. Apa adanya. Kamu manusia yang masih punya hidup,
           Gio. Manusia yang hidup tahu, ketidak sabaran cuma mem-
           buatnya merencanakan masa depan secara nggak alamiah.
           Menjadikan detik-detik berharga tadi usang, lalu meng ha-
           biskan hidup mereka menghiasi keusangan itu dengan paksa,

           menjadikannya kayak kain perca. Buruk, tapi sudah terlalu
           berat untuk ditanggalkan. Percayalah, kamu nggak akan mau
           hidup dalam belenggu seperti itu.”
              “Kenapa kamu harus begitu pesimis?”
              “Aku nggak pesimis. Ada perbedaan besar antara pe simis
           dan jujur. Aku barusan berkata jujur. Nggak lebih, nggak
           kurang.”
              Gio mengerti semua, tapi berat rasanya ia melepaskan

           pelukan itu. Meninggalkan malam ini.
              “Aku percaya, manusia tidak diciptakan untuk terikat pa-
           da apa pun. Jangan pernah takut dengan kebebasan. Jangan
           pernah juga memanipulasi kebebasan.”
              “Minha sol,” Gio bergerak pelan, wajahnya kini ber hadap-

           hadapan dengan mataharinya, “izinkan aku bersatu dengan-
           mu. Semampuku.”
              “Meu vem,  Langitku,” sang Diva berbisik, “matahari
           membakar siang atau malam, apa bedanya? Bagi matahari
           tidak ada siang dan malam. Yang ada hanyalah  ada.  Jadi,
           tidak pernah sekalipun kita berpisah.” ■



                                                                 141
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157