Page 16 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 16

Yang ada HanYalaH ada


              [Lalu, apakah sebenarnya dirimu, wahai turbulensi? Di
              mana engkau sembunyikan wajahmu?]


              Turbulensi dapat dianalogikan sebagai pigura hitam yang
           membingkai setiap kepingan gambar dalam  reel film, yang
           ketika diputar dengan kecepatan 24  frame  per detik, mata
           kita tidak akan melihat bahwa sebenarnya film tak lebih dari

           potongan-potongan gambar dan bukannya kon tinuitas. Da-
           lam realitas, turbulensi ibarat sebuah “Dapur Agung” yang
           transenden. Tak terikat ruang dan waktu, berinteraksi de-
           ngan sinyal-sinyal nonlokal. Tempat di ra cik nya semua proba-
           bilitas, potensi, serta loncatan ku an tum. Lalu, dari dapur
           tersebut tersajilah sup kehidupan yang nyata dan terukur,

           realitas yang bisa dicicip ataupun di hirup baunya.
              Turbulensi hadir di mana-mana, dalam hidup organis me
           sesederhana bakteri sampai ke interaksi antarplanet di Bima
           Sakti. Tapi, kehadirannya selalu dianggap sekadar keberi-
           sikan, tak lebih signifikan dari bunyi “kresek-kresek” ge-
           lombang radio yang tak pas atau gambar statis sesudah acara
           televisi habis. Namun, sekarang sudah saatnya dunia sains

           mengalami turbulensi yang sesungguhnya, bahwa cara pan-
           dang reduksionis dan fisika klasik para Newtonian tidak
           akan sanggup memblokir refleksi dari cermin ke hidupan.
           Keteraturan mau tak mau harus berkaca, mene mukan diri nya
           ternyata berasal dari sebuah Maha Ketidak teraturan. Sama
           halnya dengan otak yang merupakan organ nonlinear tulen,




                                                                   5
   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21