Page 20 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 20
Yang ada HanYalaH ada
“Tapi, mereka memproduksi serotoninnya dengan alami,
nggak pakai bantuan eksternal macam begini. Ingat, sebe-
narnya nggak ada yang namanya jalan pintas. Sekarang kita
boleh menganggapnya hal kecil, padahal ini ibarat utang
besar yang harus dibayar tubuh kita.”
“Jangan bikin jadi bad-trip, dong.”
“Serotonin agaknya semacam detergen otak, ya?”
“Mana saya tahu? Kamu yang kuliahnya di Johns
Hopkins. Saya, kan, bukan calon dokter.”
“Seharusnya malam ini kamu bisa jadi apa saja.”
“Saya ini seorang pujangga.”
“Seorang kapiten juga boleh.”
“Jika terlintas hasratmu menatap keindahan yang kami
puja / Lihat ke dalam hatimu dan bayangnya pun kan nyata
/ Jadikan hatimu cermin dan berkacalah di sana / Te mukan
keagungan sahabat nan mulia.”
Sorot mata Reuben yang tadi terbang mendadak jatuh. Ia
menatap Dimas tak percaya, “Kamu pernah belajar teori chaos?”
“Excuse me? Teori chaos? Itu puisinya Attar, salah satu
mis tik Sufi.”
“Ah, ya. Sufisme, teori chaos, teori relativitas, fisika kuan-
tum. Kadang-kadang saya berpikir semua itu berasal dari
satu Kotak Pandora, hanya beda zaman, beda bahasa. Kamu
sadar betapa indahnya puisi itu? Dan, betapa re levannya
dengan apa yang kubilang tadi?”
“Memangnya kamu bilang apa?”
9

