Page 19 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 19
KEPING 1
bergerak, berekspansi, berevolusi. Sia-sialah orang yang ber-
usaha menjadi batu di arus ini, yang meng ingin kan kepasti-
an ataupun ramalan masa depan karena se sungguh nya justru
dalam ketidakpastian manusia dapat berjaya, menggunakan
potensinya untuk berkreasi.
Reuben ingin meledak rasanya, dalam tangis dan tawa.
“Saya melihat kejernihan. Clarity. Semua sekat dan ke rang -
keng pikiran terbuka. Tidak ingin ke mana-mana. Semua nya
hadir di sini...,” ia berusaha menjelaskan, ter bata.
Dimas menanggapi, “Tidak ada lagi pertanyaan soal wak-
tu, kapan lulus kuliah, tugas, kuis—”
“Itu semuanya debu,” potong Reuben keras, “saya me-
lewati itu semua. Saya me-ma-ha-mi. Mengerti? Paradoks
Einstein-Podolsky-Rosen, Kupu-Kupu Lorenz, Dualitas
Elektron, Paradoks Kucing Schrödinger—”
“Kucing setengah hidup setengah mati itu?”
“Saya akan merekonsiliasi pertentangan para materi alis
dan idealis! Materi dan nonmateri! Sains dan mitos! Se mua-
nya terbayang jelas!” Reuben terus mencerocos.
“Semua gara-gara serotonin.”
“Semua karena kejernihan. Kamu tahu kalau orang-orang
yang sedang bermeditasi itu kadar serotonin di otak nya lang-
sung meningkat?”
“Jadi, kita lagi meditasi? Enak juga. Gampang. Tinggal
telan. Nggak usah susah-susah atur napas.”
8

