Page 174 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 174

Ia Sedang KaSmaran

              Memuakkan, Diva melengos. Ini polusi untuk matanya.
              Namun, sesuatu tampak berubah.

              Pria itu sekonyong-konyong berhenti melakukan ge rakan
           serbasibuknya. Wajahnya yang tadi kusut berubah cerah
           dengan drastis. Terlalu drastis. Mulutnya bergerak perlahan,
           mahal, seolah-olah ada butiran mutiara ikut ke luar di setiap
           kata yang terucap. Mata itu memandang ke arah sembarang,

           sepertinya kosong, tapi tidak. Ia sedang melihat cinta. Tak
           peduli ke mana pun matanya berlabuh, yang ia lihat hanya
           cinta.
              Diva mulai tersenyum. Pria itu sedang kasmaran. Benar-
           benar kasmaran. Sampai seolah-olah ia telah ber ubah men-
           jadi asmara itu sendiri. Senyumannya, sinar wa ahnya, ceng-
                                                       j
           ke raman jemarinya di ponsel itu, setiap gerak tubuh yang
           terjadi, Diva menahan napas. Dalam dimensi pikirnya, wak-

           tu berhenti membanjir. Melainkan menetes bagai embun.
              Tetes... demi tetes... demi... tetes... de... mi... te... tes...
           d... e... m... i... t... e... t... e... s....


              Semuanya   me lambat   se per ti   a de g a n



           s    l   o    o    o    w      m    o    t   i    o    n .


              Hanya saat seperti ini yang mampu menggerakkannya
           untuk berdoa. Berdoa andai saja ada menit saat dunia mam-
           pu  melihat  refleksi  dirinya  sendiri  dalam  gerakan  lambat.



                                                                 163
   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179