Page 175 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 175
KEPING 15
Niscaya semua akan menjadi begitu khidmat. Pe nuh makna.
Otot yang mengejang pada kaki yang berlari... lidah yang
berputar lembut dalam sebuah ciuman... jemari yang bergetar
ketika meraih tangan kekasih... lambaian anak rambut yang
ditiup angin... sudut bibir yang berubah da lam celah detik....
Setiap kerut wajah akan memiliki arti. Kalimat yang
tertunda keluar akan tampak. Pancaran ketulusan dapat di-
nikmati lebih lama. Dan, wajah yang berbohong akan jengah
dengan sendirinya.
Tak ada yang lebih indah dari gerakan lambat. Diva
menyentuhkan jemarinya pada kaca. Berusaha menyentuh
pemandangan itu. Dan, seandainya ia bisa memohon, ja ngan
pergi. Tetaplah di sana, wahai kau yang sedang jatuh cinta.
Namun, Tangan yang Tak Tampak kembali berhasil men-
jebol bendungan waktu. Setelah flip ponselnya menu tup, wajah
pria itu kembali berubah menjadi tukang da gang. Bergegas
masuk kendaraannya, dan melesat pergi. Balik ke barisan.
Sejenak Diva merasa begitu kesepian.
Ferre
Malam minggu.
Re kembali menjadi pecundang. Berhubung muak de ngan
usahanya yang sok sibuk sendiri di rumah, ia akhir nya me-
milih ikut dengan Alé dan pacarnya, Lala. Mereka pergi
bertiga. Makan bertiga. Nonton ke bioskop bertiga.
164

