Page 176 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 176
Ia Sedang KaSmaran
Panjang antrean tiket sudah menyamai arak-arak ba-
rongsai.
“Kalian duduk saja atau jalan-jalan, kek. Biar aku yang
antre,” Re menawarkan diri.
“Nggak, ah. Kita antre bareng saja,” Lala langsung
menolak.
“Lho. Jangan ditolak. Memang itu gunanya dia ikut.
Supaya ada yang antre tiket, dan kita tetap bisa pacaran.
Kalau nggak, apa untungnya kita ajak dia?” ujar Alé.
“Pergi sana,” Re tertawa, “kampret!”
Alé tergelak-gelak. Pasangan itu pun berjalan pergi.
Re memandangi dari kejauhan. Bagaimana Alé meling-
karkan tangannya di pinggang Lala, dan Lala menyandar kan
kepalanya di bahu Alé. Dengan posisi seperti itu, mereka
berdua berjalan agak terseret. Sepertinya ada geli mang-
gelimang cinta kental yang menggenangi kaki me reka.
Di ujung sana, ada sepasang remaja yang bergandengan
tangan, terus-menerus, seperti telapak tangan mereka di lem.
Ada pria yang mengantre tiket sambil tak lepas me meluk
kekasihnya dari belakang. Ada perempuan yang lagi me nyu-
apkan kue sus ke mulut pacarnya yang lagi asyik main Time
Crisis. Ada pria yang setia menunggu dekat toilet, dan begitu
pacarnya keluar, matanya berbinar se perti melihat bidadari
merekah dari teratai kayangan.
Kalau saja ceritanya lain, Re yakin malam ini ia dan
Rana akan dinobatkan menjadi pasangan dengan jalan pa ling
165

