Page 178 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 178

Ia Sedang KaSmaran

              “Siapa juga yang pity? Itu, sih, memang kamu yang to lol!”
           timpal Alé. “Aku nggak simpati, apalagi kasihan. Untuk soal

           itu, kamu nggak perlu khawatir. Tapi, aku ce mas. Orang yang
           menurutku akal sehatnya nomor satu, kok, bisa-bisanya jadi
           penderita irasionalitas kronis. Bahkan, aku berani bilang,
           koma! Sebentar lagi mampus! Tauk?”
              Re terdiam. Menyadari bahwa kata-kata temannya bisa

           jadi benar.

                           Aku adalah manusia statistis.
                         Statistik kita tidak bagus, Putri.
                    Aku adalah manusia yang butuh pengakuan.
                Tak kutemukan satu orang pun yang mengakui kita.

              Ia teringat ketika Alé menjemputnya tadi. Sebelum sa ha-
           batnya itu datang, Re tengah mengintip acara televisi, mencari

           tahu apakah sinetronnya sudah mulai atau belum. Sinetron
           tentang pria kedua. Kalau besok malam, giliran nya sinetron
           tentang wanita kedua. Semua sedang seru-serunya. Tokoh-
           tokoh itu dikisahkan sedang bingung memilih. Dan, setiap
           kedua sinetron itu naik tayang, Re menonton tanpa berkedip.

              Di sofanya ada sejumlah majalah—penuh dengan tanda
           pembatas yang kesemuanya menandai artikel, cerpen, no-
           velet, konsultasi—yang menceritakan tentang gamangnya
           pernikahan karena kehadiran orang ketiga.
              Dulu,  baginya,  semua  itu  sampah.  Dampak  mendra ma-
           tisasi hidup yang sebenarnya dibikin-bikin sendiri.  Sakaw-



                                                                 167
   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183