Page 180 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 180

Ia Sedang KaSmaran

              “Nonton sepuluh menit, kan, bukan berarti apa-apa,” ki-
           lah Re pelan. “Buat apa juga nonton sinetron,” sam bung nya

           lagi lebih lirih. Ya, buat apa?


                      Semua perjalanan hidup adalah sinema.
                         Bahkan lebih mengerikan, Putri.
                   Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis.

            Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu.


              Re menepiskan lamunannya. Kembali hadir di detik ini.
           Cepat, ia mengalihkan pandangannya ke jalan.
              Lampu merah.
              Dari sebelah kiri, sebuah motor datang menjajari me reka.
           Motor bebek ’70-an hijau dengan lampu depan yang sudah
           kalah  terang  dengan  petromaks warung.  Penge mudinya  se-

           orang pria muda yang mengenakan helm bu tut, tampangnya
           sederhana, dengan kumis tebal dan sinar mata yang ramah.
           Ia memboncengkan seorang perem puan, yang juga seder ha na,
           dengan rambut panjang dijepit dan baju bermotif bunga kecil-
           kecil. Perempuan itu me ngenakan jaket kebesaran yang jelas

           bukan miliknya. Pasti milik pria itu. Dan, kehangatan wajah
           mereka berdua, se perti di atas tungku asmara yang apinya
           sudah mulai sta bil. Tenang, tak lagi meledak-ledak. Mungkin
           mereka se dang merencanakan punya anak tahun ini.
              Re kembali terusik.
              Di sisi lain jalan, ada lagi sepasang kekasih, menunggu



                                                                 169
   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185