Page 230 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 230

TiTik Bifurkasi

              Re menghela napas. “Tapi, nggak berarti aku akan pergi
           dari sini dengan kenihilan yang sama lagi. Kita harus me-
           mu tuskan sesuatu. Dan, aku siap dengan segala kepu tus-

           anmu.”
              Keputusan. Dengan seketika, kata itu mengasosiasikan nya
           dengan banyak wajah, banyak kondisi, banyak proba bilitas.
           Rana terlalu lelah untuk menimbang-nimbang. Ia juga muak.
              “Aku akan pergi denganmu, Re.” Sekonyong-konyong ia
           berkata. Tegas.
              Re melongo.
              “Sepulang dari sini, aku akan bicara dengan Arwin,” jelas
           Rana lagi. Penuh keyakinan.
              Sayup-sayup Re kembali mendengar suara biolanya. Kali
           ini bergemuruh, seolah-olah ada simfoni akbar yang siap
           meledak dengan megahnya.







           “Lé?”
              “Kamu tahu sekarang pukul berapa?” terdengar suara Alé
           yang parau dan mengantuk. Sayup suara azan Subuh mela-
           tarbelakangi pembicaraan itu.
              “Aku tahu kamu pasti sudah tidur. Tapi, aku nggak bisa
           tidur.”
              “Terus? Bukan berarti aku juga harus ikutan nggak tidur,
           kan? Hanya gara-gara mengeloni seorang bayi besar lewat
           telepon?”



                                                                 219
   225   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235