Page 227 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 227

KEPING 21


           [Ya, Putri, tentu saja aku bersedia
           jadi obatmu. Aku relakan diriku
           untuk  kau  telan,  kau  minum,  kau

           kunyah,  atau  kau  emut.  Strategic
           Business Development Plan yang
           seharusnya menjadi rencana terbe sar
           hidupku akan kuganti dengan me-
           nung guimu semalam sun tuk. Bersa-
           mamu 24 jam, Putri, adalah ren-
           cana terbesarku kini.]

                                    [Nah, masih kurang kuatkah tekad-
                                    ku?  Komitmenku?  Aku  siap  setiap

                                    detik kau siap. Tapi, kau tak per-
                                    nah siap. Semua berhenti di tahap
                                    “wishful thinking”  bela ka. Tak
                                    ada yang terealisasi.]

             “Rana, aku nggak bisa terus begini.”
             Rana tahu saat ini akan tiba. Persimpangannya.
             “Ketika kamu sakit begini, dan kalau ada lagi saat-saat
           semacam ini, aku menjadi orang yang paling nggak ber daya.
           Ini terlalu menyakitkan.”

             “Aku mengerti. Aku mengerti sekali.” Mata itu bak kaca
           yang merapuh. Siap pecah.
             “Jangan, tolong, omonganku jangan dijadikan beban. Aku
           nggak bermaksud begitu. Tapi, semua ini....” Re terduduk
           lunglai.


           216
   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232