Page 39 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 39

KEPING 2


             Re otomatis mengetuk-ngetukkan bolpoin. Sebelah ka ki-
           nya bergetar gelisah. Tidak banyak telepon. Tidak ba nyak

           surel. Tidak banyak laporan baru di meja. Re merasa ada
           yang salah.
             Tanpa ada alasan yang jelas, ia menghampiri jendela
           ruang kerjanya, membukanya sedikit. Di gedung perkan toran
           setinggi ini, hampir tak ada jendela ruangan yang bisa

           dibuka. Ruangan Re adalah perkecualian. Ia jadi meng ang-
           gap itu semacam kemewahan meski udara di luar sana pun
           hampir selalu tak segar.
             Tak lama kemudian, suara Irma muncul dari speaker te le-
           ponnya.  “Pak, ada lagi majalah yang  minta wawancara.
           Majalah baru. Dia menanyakan kesediaan Bapak.”

             “Nggak ada kapoknya itu orang-orang,” gumam Re. Cu-
           kup  terkesan  akan  sikapnya yang  tidak  langsung  me nolak
           mentah. Ia lebih memperhatikan seekor kupu-kupu yang ter-
           bang di dekat jendela. Sungguh ganjil ada kupu-kupu mungil
           berwarna putih terbang di ketinggian ge dung seperti ini.

             “Majalah apa itu?”
             “Majalah wanita.”
             Tawa kecil spontan menyembur dari mulutnya.
             “Kemarin sore mereka datang dan mengantarkan sam pel-
           nya. Itu, sudah saya taruh di meja Bapak.”
             Ia membongkari tumpukan di ujung kiri mejanya. “Oh,

           ya, ini dia.” Re membuka-buka sekilas. Tak ada yang mena-
           rik. Program otaknya siap menolak. “Irma....”


           28
   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44