Page 40 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 40
Kesatria
Kalimat itu menggantung. Perhatian Re teralih pada
kupu-kupu mungil yang terbang memasuki ruang ker a nya,
j
menari lincah dan dengan polos hinggap di meja. Dekat ma-
jalah itu. Mendadak Re memperhatikan sesuatu. Logo maja-
lah itu adalah kupu-kupu.
Untuk kali pertama setelah sekian lama, timbul kehe-
ningan dalam pikirannya. Re tercenung.
“Pak? Saya tolak saja, ya?”
“Nanti, nanti dulu,” Re sadar, ia akan melakukan se buah
keputusan intuitif, “kasih tahu mereka kalau saya bersedia.
Tapi, ....”
Kupu-kupu mungil itu terbang lagi. Berputar-putar di
jendela, dan kembali menemukan jalan keluarnya. Re ter ce-
nung untuk kali kedua.
“Tapi, kenapa, Pak?”
Programnya dengan cepat menormal. “Tapi, mereka ha nya
punya tiga jam ke depan ini. Lebih cepat mereka bisa datang
lebih banyak waktu yang mereka punya. Kalau tidak bisa, ya,
sudah.”
Intuisi. Sudah lama Re tidak menerapkan konsep itu. Pi-
kir annya setajam dan serapi komputer berprosesor Pen tium.
Komputer tidak pernah memberikan ruang pada intuisi.
Kurang dari dua jam, seorang perempuan tergopoh-go poh
sampai di lantai gedung itu. Napasnya masih ter engah-engah.
“Saya belum terlambat, kan?” tanyanya setengah panik.
Re porter itu cepat-cepat mengatur napas. Ia tidak punya ba-
29

