Page 42 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 42
Kesatria
“Maaf, kalau boleh tahu, umur Anda berapa?”
Keningnya langsung berkerut. “Dua puluh delapan.
Kenapa?”
Re tertawa renyah. “Sori, sori. Bukan kenapa-kenapa. Sa-
ya kira saya akan diwawancarai reporter senior yang umur-
nya setidaknya 35, 40 tahun.”
Rana mulai terusik. “Saya Wakil Pemred. Mungkin feno-
menanya sama seperti Anda, hanya beda skala, beda bidang,”
ia menjawab lugas. Sikap duduknya berubah santai. Suaranya
memantap, pandangannya berani. “Jujur saja, akibat pem beri-
tahuan Anda yang mendadak, saya nggak sempat memper-
siapkan apa-apa. Saya hanya mem bawa biodata standar untuk
diisi, yang bisa juga dijadikan bahan. Atau, kita bisa mulai
dari udara.”
“Udara?” Badan Re langsung condong ke depan. Per tanda
ia mulai tertarik. Dan, perempuan ini memang jadi menarik.
“Itu istilah saya pribadi. Maksudnya, kita bisa mulai dari
mana-mana. Pembicaraan yang tidak berskema ka dang-
kadang malah lebih punya bobot daripada yang di renca-
nakan.”
“Saya setuju,” Re tersenyum, “ngomong-ngomong, ini
untuk rubrik apa, ya?”
“Mungkin nggak akan menantang buat Anda sama se kali.
Rubriknya berjudul ‘Impian Siang Hari’. Terje mahan harfiah
dari daydreaming. Memang kenyataannya, figur se perti
Anda lah yang sering dijadikan impian siang bolong para
31

