Page 41 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 41

KEPING 2


           nyak waktu untuk menenangkan diri. Menyusun kon sep
           wawancaranya  saja  belum  sempat.  Tidak  tahu  apa  jadinya

           nanti, sementara ia tahu persis kaliber seperti apa yang bakal
           dihadapi.
             “Silakan.” Irma membukakan pintu.
             Perempuan itu berusaha setengah mati untuk tampak
           tenang. Tidak menyangka dirinya akan langsung disambut

           dengan gerakan melihat jam tangan.
             “Selamat siang. Anda punya waktu satu jam sepuluh
           menit. Ferre,” Re menjabat tangan perempuan itu. Terasa
           di ngin. “Panggil saya ‘Pak’ atau ‘Re’, terserah.”
             “Rana,” suaranya bergetar. Perlahan, ia mengeluarkan per-
           alatannya: buku catatan, bolpoin, dan alat perekam. Ia mem-
           beranikan untuk melirik sedikit. Ternyata, pria ini lebih
           tampan dari yang dibicarakan orang, dan ia pasti ti dak tahu

           sosoknya sudah nyaris menjadi mitos. Hasil pub lisitas mulut
           ke mulut akan sangat dahsyat bila beredar di segmen yang
           tepat, dan  kepenasaranan akan profil  pria  ini bukan  cuma
           lingkup antarkantor lagi, melainkan sudah men adi kepe na-
                                                        j
           saranan massa. Bahan rumpian di salon atau klub kebugaran.

           Rana termasuk salah satu yang ter makan.
             “Ada lagi yang kita tunggu?” Re mengusik lamunan sing-
           katnya.
             Saking gugupnya, Rana malah mengeluarkan gumaman-
           gumaman aneh. Ia sungguh tidak tahu harus memulai dari
           mana. Ini sangat memalukan.



           30
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46