Page 45 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 45
KEPING 2
tinggal dengan kakek dan nenek. Waktu umur saya sebelas
tahun, keduanya meninggal dunia. Dan, mereka telah me-
ninggalkan wasiat untuk menitipkan saya di keluarga sa habat
kakek di San Francisco, berikut semua biaya hidup dan se-
kolah saya sampai selesai. Kakek saya persiapannya luar
biasa, ya?” Re menarik napas sebentar. “Jadi, kalau ada figur
orangtua yang paling berperan, mereka adalah kakek-nenek
saya. Dan, tentu saja, Gregory Tanner, sa habat Opa yang
sudah seperti ayah saya sendiri.” Wajah itu datar. Seolah ti-
dak ada secuil pun unsur dramatis dari cerita masa kecilnya.
Malah, Rana yang tercenung. Dalam kamusnya, tidak ada
air muka sebrilian itu selain ekspresi Mr. Bean saat di bela-
kang setir mobil Morris-nya.
“Re...?” ia menyebutkan nama itu seolah-olah memin ta
izin. “Apa cita-cita kamu waktu kecil? Dokter? Insinyur?
Ingin seperti Pak Habibie?”
Pria itu tertawa. Teringat daftar cita-cita klasik yang jadi
pedoman anak-anak SD dulu.
“Kamu sendiri, Rana?”
“Bintang film,” Rana nyengir. “Kalau kamu?”
Tidak ada yang tahu betapa sulitnya pertanyaan itu. Re
dipaksa untuk menyusuri kelamnya gua masa kecil yang pe-
nuh lumpur. Mungkin inilah gorong-gorong saluran sekresi
psikologis. Tidak heran Freud tergila-gila. Tak ada yang
lebih menarik daripada menyaksikan seseorang me nyelam ke
septic tank kotorannya sendiri.
34

