Page 51 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 51
KEPING 2
kembali ke masa lalu. Hidup memang aneh. Banyak pen-
jelasan dalam ketidakjelasannya.
“Saya ingin jadi Kesatria,” ia menjawab pelan. Dan, masih
betapa jauhnya ia dari cita-cita itu.
“Maksud kamu, jadi ABRI, begitu? Atau pendekar si lat?”
“Yah, kira-kira.”
Rana geleng-geleng kepala. “Sudah saya duga. Jawaban
pertanyaan ini pasti penuh kejutan.”
“Bagi saya, pertanyaan kamulah yang mengejutkan.”
Rana menatap pria itu. Ada intensitas dalam adu pan dang
mereka yang hanya dua detik. Inilah saat suara piano akustik
biasanya muncul sebagai ilustrasi.
Rana langsung salah tingkah. Saat itu, ia belum sepe nuh-
nya sadar, sebenarnya ia tidak sendirian.
“Kamu punya waktu sampai makan siang, kan?” Re ber-
tanya.
Inilah saatnya sekawanan biola biasanya mengalun ma suk.
Rana mengangguk. Terlalu cepat. Tak ada yang bisa di-
sembunyikan. Termasuk cincin emas polos yang meling kar
di jari manisnya.
Re baru menyadari keberadaan cincin itu ketika mereka
pergi makan siang berdua. “Kamu menikah?”
“Iya.” Suara Rana mengambang seperti awan.
“Sudah berapa lama?”
“Tiga tahun.”
40

