Page 54 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 54
Kesatria
Rana menghela napas. “Banyak sisi yang ikut muncul, sisi
yang sebenarnya pasti ada, tapi nggak pernah di harapkan.
Nah, di sanalah gunanya komitmen.”
“Komitmen memang alasan paling bagus untuk ber kom-
pensasi.”
Rana benar-benar tidak suka pembicaraan ini.
“Mungkin itu salah satu alasan kenapa saya tidak per nah
mau serius berkomitmen. Kompromi di pekerjaan bisa dihi-
tung harganya. Tapi, untuk urusan hati, saya pikir siapa pun
setuju harganya tidak ternilai,” ujar Re dengan ringannya.
“Cinta, kan, butuh pengorbanan,” sahut Rana pelan.
“Lalu, idiot mana yang menulis ‘Love shall set you free’?
Tadinya, saya pikir, cinta seharusnya menjadi tiket menuju
kebebasan, bukan pengorbanan. Agaknya konsep itu ter lalu
utopis, ya.”
Lama mereka berdua terdiam. Terlalu lama sehingga me-
nyiratkan segalanya.
“Wawancara yang sangat menarik, terima kasih. Bukti
terbitnya akan saya kirim.” Rana bangkit berdiri.
“Nggak ada kartu nama?”
“Oh, ya. Sebentar.” Sigap, Rana mengambil selembar,
menuliskan nomor ponselnya, dan merasa lega. Ia ingin me-
ning galkan jejak.
“Ini kartu nama saya.” Re langsung menuliskan nomor
ponselnya.
Rana benar-benar lega.
43

