Page 50 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 50
Kesatria
untuk jadi Kesatria. Kapan-kapan saja, ya? Kalau kamu su-
dah gede.”
Tak sampai setahun, Oma meninggal. Disusul Opa se-
tahun kemudian. Malaikat-malaikat berambut putih yang
telah merawat dan membesarkannya, yang mengajarinya
huruf dan angka, membacakan untuknya cerita, dan meng-
ajaknya berdoa.
Re menganggap kejadian itu adalah konsekuensi cita-
citanya. Rupanya Tuhan mendengar ikrarnya waktu itu.
Ber tahun-tahun, ia telah memusingkan mereka dengan per-
tanyaannya yang tak ada habis dan kehausannya akan kisah-
kisah. Kali ini, ia harus membuat kisahnya sendiri.
Tidak. Ia tidak sempat diajari untuk ingin jadi insinyur,
jadi pilot, atau jadi seperti Pak Habibie. Satu-satunya cita-
cita yang ia ingat dan terus ia lakoni adalah menjadi Ke-
satria. Dengan kisah yang sama sekali berbeda. Tak ter-
makan cinta dan percaya. Mampu belajar terbang tanpa di-
bantu siapa-siapa.
Berawal dari satu getar sel abu-abu.
Lama-lama, Rana menyadari jeda kosong yang tidak lagi
wajar. “Maaf, cita-cita waktu kecil?” ia mengulang hati-hati.
Re mendongak. Wajah yang satu ini mengundang keju-
juran. Tidak tahu kenapa. Konon, kita memang tidak pernah
tahu akan bertemu dengan siapa hari ini atau esok lusa. Dan,
siang hari ini, ia menemukan seseorang yang memaksanya
39

