Page 52 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 52

Kesatria

              “Berarti, waktu kamu masih 25 tahun? Relatif cepat juga,
           ya? Untuk ukuran modern yang saya tahu sekarang. Ada

           alasan khusus?”
              “Orangtua. Terutama mertua saya. Daripada membuka
           kemungkinan berzina, katanya, lebih baik disuruh nikah
                                                                 j
           cepat-cepat. Toh, sudah pada lulus kuliah, sudah bisa ker a.”
              Mata Re membelalak tak percaya. “Oh, ya? Saya, kok,

           baru dengar alasan seperti itu.”
              “Buat seseorang yang dari SMP sudah pergi sekolah ke
           San Francisco, mungkin jadi hal baru,” sahut Rana. Getir.
              Rana tak menceritakan bagian di mana ia benar-benar
           mabuk cinta. Mabuk akan imaji cinta yang terwujud da lam
           bahtera rumah tangga; pasangan muda, rumah milik ber-
           sama  di  real estate baru,  kredit mobil  ditanggung  ber dua,
           men dorong kereta belanja sambil bergandengan ta ngan di

           supermarket, berdebat soal detergen merek apa, mi instan
           apa, dan sambal botol keluaran pabrik mana.
              “Bagaimana rasanya menikah? Menyenangkan?” Kali ini,
           Re menyempatkan diri untuk menatap mata Rana. Sorot
           yang tak kunjung berpijak.

              “Yah,  begitulah,”  Rana  mencoba  bersikap  santai,  “me-
           mang, sih, nggak terlalu mirip dengan apa yang saya ba yang-
           kan dulu, tapi oke-oke saja.”
              “Sori, mungkin nggak pada tempatnya saya bertanya-
           tanya seperti itu. Cuma saya selalu terkesan pada orang-





                                                                  41
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57