Page 47 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 47
KEPING 2
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,
lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun, sang Putri masih jauh di awang-awang,
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Kesatria sedih dan kali ini ia putus asa.
Sampai satu malam, ada Bintang Jatuh yang berhenti
mendengar tangis dukanya.
Ia menawari Kesatria untuk mampu melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit
dijadikan satu.
Namun, kalau Kesatria tak mampu mendarat tepat di
Putrinya, ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Kesatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada
Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan, ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada
serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya. “Inilah perjalanan
sebuah cinta sejati,” ia berbisik,
“tutuplah matamu, Kesatria. Katakan untuk berhenti begitu
hatimu merasakan keberadaannya.”
Melesatlah mereka berdua. Dingin yang tak terhingga serasa
merobek hati Kesatria mungil,
tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan, ia merasakannya. “Berhenti!”
36

