Page 90 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 90

Bintang Jatuh

              “Mungkin kamu yang terlalu ndableg.”
              “Div,” panggil Dahlan lembut, “kadang-kadang saya pikir

           kamu lebih pintar dari CEO saya. Lalu, kenapa ha rus ber-
           profesi seperti ini? Dengan otak seperti itu kamu bisa men-
           dapatkan jabatan yang lebih bagus daripada saya.”
              Perempuan  itu  tersenyum  mencemooh.  “Justru  karena

           saya lebih pintar dari kamu dan CEO kamu, saya nggak
           mau bekerja seperti kalian. Apa bedanya pro fesi kita? Su dah
           saya bilang, kita sama-sama berdagang. Komoditasnya saja
           beda. Apa yang kamu perdagangkan buat saya nggak se-
           harusnya dijual. Pikiran saya harus di buat merdeka. Toh,
           berdagang pun saya tidak semba rang—”
              “Jadi, karena itu tarif kamu dolar?” potong Dahlan sambil

           terkekeh. Ia meraih tas kantornya, dan mengambil amplop
           yang sudah ia siapkan. Menyerahkannya kepada Diva.
              “Gleiche arbeit, verschiedener lohn; same work, different pay.
           Itu baru prinsip saya,” Diva berkata ringan.

              “Tahu nggak? Sebenarnya, ngobrol dengan kamulah yang
           layak menjadikan malam ini begitu mahal.”
              “Jangan munafik. Yang jelas, kamu menikmati dua-dua-
           nya, kan?” Diva siap pergi. “Bye.”
              “Jangan lupa minggu depan!”
              “Kita ada janji lagi?” Diva mengerutkan kening, kemu dian
           mengecek daftar alarm di ponselnya. “Oh, iya,” gu mamnya
           pendek.

              Perempuan itu pergi begitu saja tanpa menyentuhnya lagi.


                                                                  79
   85   86   87   88   89   90   91   92   93   94   95