Page 18 - Supernova 4, Partikel
P. 18

lapis kedalaman baru yang diselaminya. Begitulah hubungan Ayah dan fungi.

          Awalnya, sulit untukku bisa menghayati ketergila-gilaannya. Di mata kanakku, jamur,
        khamir,  kapang,  bukanlah  objek  yang  cantik  untuk  digambar  atau  difoto.  Beda  dengan
        anggrek  atau  mawar.  Perlu  upaya  ekstra  dari  Ayah,  dan  juga  diriku  sendiri,  untuk  bisa
        menyukai atau minimal punya respek terhadap fungi-fungian itu.

          Dengan  tegas  Ayah  menandaskan,  “Umat  manusia  selamanya  berutang  budi  pada

        kerajaan fungi. Kita bisa ada hari ini karena fungi melahirkan kehidupan buat kita.”

          Bagi Ayah, fungi adalah orangtua alam ini.

          Ia bercerita, tak kurang dari 1,3 miliar tahun yang lalu, fungi adalah organisme pertama
        yang  muncul  di  darat.  Disusul  tumbuhan  600  juta  tahun  kemudian.  Fungi  menyiapkan
        daratan  bagi  tumbuhan  karena  ia  mampu  “mengunyah”  bebatuan.  Fungi  memproduksi
        enzim  dan  asam  yang  mampu  menyedot  mineral  dari  bebatuan,  membuatnya  menjadi
        rapuh. Tanpa kemampuan fungi menyulap bebatuan, Bumi tidak akan punya tanah, yang
        merupakan rumah dari semua organisme darat. Termasuk manusia.


          “Setidaknya  ada  dua  peristiwa  kiamat  yang  pernah  dialami  Bumi  ini,  Zarah.”  Ayah
        mengacungkan kedua jarinya. “Dua ratus lima puluh juta tahun lalu, kita pernah ditubruk
        asteroid.  Apa  jadinya?  Sinar  matahari  terhalangi  selimut  debu  dan  batu,  entah  berapa
        lama.  Seluruh  kehidupan  hilang  dari  muka  Bumi.  Hewan,  tanaman,  semua  punah.
        Sembilan puluh persen spesies hilang, kecuali fungi. Hampir semua fungi bisa bertahan
        hidup  tanpa  matahari.  Dan  akhirnya,  kembali  lagi,  fungi  menyiapkan  Bumi  untuk  bisa
        punya  kehidupan.  Dalam  masa  kegelapan,  fungi  bekerja  keras,  menyiapkan  planet  ini

        untuk bisa menjadi rumah bagi organisme lain.”

          “Peristiwa yang kedua apa, Yah? Apa?” tanyaku tak sabar.

          “Kita ditubruk lagi, 65 juta tahun yang lalu.”

          Napasku tertahan. “Zaman dinosaurus,” desisku.

          “Ya,” Ayah mengangguk, “Dinosaurusmu punah, semua tanaman mati. Bumi diselimuti
        debu dan batu lagi. Siapa yang bisa bertahan hidup tanpa matahari?”

          “Fungi,” jawabku setengah berbisik. Mulai terpukau.

          “Lagi-lagi,  dengan  kemampuan  sulapnya,  fungi  mengubah  bebatuan  menjadi  tanah,
        menyiapkan kehidupan berikutnya di Bumi. Kita.”

          “Mereka itu seperti tukang sulap tanah, ya, Yah?”


          “Betul  sekali.  Lewat  dua  kejadian  itu,  evolusi  akhirnya  menggiring  semua  makhluk
        untuk  bersimbiosis  dengan  fungi.  Fungi  adalah  konstruksi  dasar  sistem  kehidupan  di
        Bumi.”

          Aku berdecak kagum.

          “Kamu tahu apa organisme terbesar di dunia?”

          “Paus biru?” cetusku spontan.
   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22   23