Page 216 - Supernova 4, Partikel
P. 216

“Formasi  ini  membingungkan  bagiku,”  timpal  Moore.  “Mungkin  ada  pesan  yang
        berlapis. Entahlah. Kalau ini hoax, kehalusan kerjanya mirip sekali dengan yang asli. Dan,
        kamu tahu apa akibatnya, Simon. Ini bisa memukul mundur riset puluhan tahun kami.”

          “Selalu  ada  kemungkinan  imposter,  Dave.  Kemampuan  mereka  pun  pasti  tambah
        canggih. Sudahlah, yang penting kita tidak berhenti meneliti,” hibur Pak Simon sambil
        menepuk bahunya.


          “Atau, ada dua kubu alien?” celetukku.

          Baik Dave Moore maupun Pak Simon terdiam.

          Tak lama, bus kami kembali bergerak, balik ke arah Wiltshire. Formasi ketiga, dengan
        bentangan hampir 150 meter, merupakan formasi terbesar dari yang kami kunjungi hari
        ini. Kunjungan terakhir ini melipur semua orang. Tak terkecuali aku.

          Keindahan  polanya  dan  energi  tempat  itu  secara  keseluruhan  seolah  membangkitkan
        semangat  semua  orang.  Untunglah,  Dave  Moore  mengambil  lokasi  ini  sebagai  yang
        terakhir. Perjalanan kami terasa klimaks.

          Aku berterima kasih kepada  Dave  sebelum  kami  berpisah.  Di  luar  dari  formasi  yang

        mencengangkan, energi yang diberikan oleh sebuah lokasilah yang membuat pengalaman
        itu  tak  terlupakan.  Sesuatu  yang  juga  baru  kusadari  setelah  berinteraksi  dengan  Bukit
        Jambul.

          “Itulah satu hal yang tidak bisa kamu palsukan: intention,” jelas Dave. “Mau manusia
        atau ET, saya rasa itu hukum universal. Intention speaks louder than any code.”

                                                                                                               8.

        Pagi  di  Weston  Palace  merupakan  fenomena  yang  tidak  kalah  alien  dari  perjalananku
        beberapa hari terakhir bersama Pak Simon.


          Pintu kamarku akan diketuk, lalu Robert akan masuk membawa meja troli berisi sarapan
        dengan menu kontinental. Lengkap dengan vas berisi mawar potong segar. Atau, seperti
        pagi  ini,  Robert  masuk  membawa  selembar  kartu  polos  putih.  Saat  kubuka,  terbacalah
        tulisan tangan Hardiman: Sarapan bersama di meja makan?

          Robert  lalu  menyilakanku  keluar  kamar  dengan  gesture-nya  yang  sopan,  kemudian
        berjalan mengiringiku ke ruang makan.

          “Selamat pagi, Zarah,” sapa Pak Simon yang sudah duduk di meja makan berkapasitas
        dua belas orang itu. Ada dua orang yang bersiaga di dekat meja. Robert salah satunya, dan

        seorang pelayan perempuan bernama Emily.

          “Terima kasih sudah mau sarapan bersama. Ada yang ingin saya obrolkan,” kata Pak
        Simon lagi.

          “Tenang, Pak,” cengiran lebar tak bisa kutahan. “Saya nggak punya janji sarapan dengan
        siapa-siapa lagi di Glastonbury.”

          “Simposium  sudah  selesai.  Eksperimen  kita  bisa  dimulai,  Zarah,”  kata  Pak  Simon
        bersemangat. “Yang kita butuhkan sekarang adalah seorang syaman.”
   211   212   213   214   215   216   217   218   219   220   221