Page 219 - Supernova 4, Partikel
P. 219

not going to miss this one either. Kedua, dan ini yang lebih penting, saya tidak merasa
        terpanggil untuk membantu. Maaf, Zarah. Nothing personal,” ia beralih kepadaku.

          Aku hanya diam. Tidak tahu harus bereaksi apa.

          “Hawkeye,  tolonglah,  saya  mohon.  Satu  kali  ritual,  dan  kita  lihat  lagi  ke  depannya
        seperti apa. Saya tidak akan memaksa.”

          Aneh rasanya melihat sosok Pak Simon yang biasanya selalu tampil sebagai pemimpin,
        pemberi perintah, kini memohon kepada Hawkeye.


          “Saya bisa kasih daftar orang-orang yang bisa saya percaya—healers, syamans—untuk
        membantu kalian. Dan, mereka tinggal di Inggris.”

          “Hawkeye. Saya kenal mereka semua,” potong Pak Simon. “Ini bukan masalah mereka
        kompeten atau tidak. Ini menyangkut rasa percaya, intuisi, chemistry. Saya percaya kepada
        kamu. Dan, yang lebih penting lagi, Zarah percaya kepadamu.”

          “Saya benar-benar nggak bisa,” Hawkeye menegaskan. “Kamu tahu betapa pentingnya
        Burning Man untuk saya. Saya harus pulang.”

          Aku  mengamati  mereka.  Ini  konyol,  pikirku.  “Boleh  saya  ngomong  sedikit?”  aku

        menyela. Kutarik kursi, mendekat ke mereka berdua.
          “Hawkeye, saya nggak bermaksud memaksa, apalagi menahanmu untuk sesuatu yang

        sama sekali bukan urusanmu. Saya minta maaf,” ucapku sungguh-sungguh. “Pak Simon,
        saya sendiri belum pernah cerita lengkap apa yang terjadi. Rasanya tidak adil kalian jadi
        meributkan sebuah urusan yang belum jelas. Boleh saya cerita dulu semuanya?”

          Pak Simon dan Hawkeye sama-sama mengangguk.

          Dari mulutku, bergulirlah sejarah Zarah Amala. Batu Luhur, Bukit Jambul, keluargaku.
        Mengalirlah cerita tentang jurnal Ayah, tentang pengalamanku dengan Amanita, tentang

        kamera misterius. Meluncurlah babak kehidupanku di Kalimantan, pertemuanku dengan
        Paul dan The A-Team, hingga aku tiba di London. Kututurkanlah tentang Storm dan Koso.
        Akibatnya  padaku.  Dan,  betapa  dalam  dua  tahun  terakhir  aku  hampir  tidak  berhenti
        keliling dunia.

          “Saya  ingin  bisa  berhenti,”  tuturku.  “Entah  itu  jawaban,  atau  kesimpulan,  tapi  saya
        menanti sesuatu yang bisa membuat saya berhenti berlari. Berhenti mencari.”

          “Dan,  jika  jawabannya  ternyata  tidak  ada?  Kamu  masih  mau  mencoba?”  tajam,
        Hawkeye bertanya.


          “Bagi  saya,  ‘tidak  ada’  pun  adalah  jawaban,”  tegasku.  “Dan,  saya  mau  terbuka  dari
        sekarang kepada kalian berdua. Saya tidak punya ketertarikan sama sekali dengan UFO,
        alien, dan sejenisnya. Biarpun ayah saya terobsesi mengeksplorasinya, saya tidak. Tujuan
        saya cuma  satu.  Saya  ingin  cari  Ayah.  Dan,  kalau  itu  ternyata  mengharuskan  saya  ke
        dimensi lain, ke mana pun itu, saya mau.”

          “Kita tidak mungkin mengarbit pengalaman enteogen, Zarah. Bukan cuma kamu yang
        memilih  tanaman-tanaman  ini.  Mereka  juga  memilih  kamu.  Kalau  kamu  dirasa  bukan
   214   215   216   217   218   219   220   221   222   223   224