Page 211 - Supernova 4, Partikel
P. 211

“Pengobatan tradisional Timur sudah lama tahu, jauh sebelum dunia medis Barat, bahwa
        tubuh  manusia  memiliki  titik-titik  energi  yang  mereka  sebut  sebagai  sistem  meridian.
        Tidak terlihat oleh mata telanjang, tapi itu ada. Ketika seseorang sakit, bukan cuma bagian
        tubuh yang terlihat yang diutak-atik, melainkan justru yang tak terlihat itulah yang mereka
        perbaiki lebih dulu. Sistem meridian itu seperti pola matriks yang meliputi tubuh manusia.

        Begitu juga dengan chakra. Chakra ibarat roda-roda yang memobilisasi tubuh fisik kita.
        Jadi, kalau ada apa-apa dengan tubuh fisik ini, mereka memeriksa matriks perlistrikannya
        lewat  sistem  meridian.  Mereka  juga  memeriksa  apakah  ada  chakra  yang  terganggu.
        Intinya,  tubuh  manusia  diperlakukan  secara  utuh.  Tidak  ada  pemisahan  karena  semua
        sistem tadi saling mendukung,” jelas Pak Simon.

          “Kalau  Bumi  ini  hidup  seperti  kita,  dia  pun  akan  punya  sistem  meridian,  dia  punya

        chakra. Jadi, bagi saya, ley lines, teori World Crystalline, teori World Grid, menunjukkan
        bahwa  ada  aspek  lain  dari  Bumi  kita  yang  belum  sepenuhnya  kita  kenali.  Aspek  yang
        menunjukkan bahwa Bumi kita adalah makhluk hidup yang berkesadaran.”

          “Ayah  pernah  bilang,  manusia  adalah  penyakit  terjahat  bagi  Bumi.”  Aku  tersenyum
        pahit.

          “Kita bisa jadi dua-duanya, Zarah,” balas Pak Simon lembut. “Kita bisa membantu Bumi
        untuk  pulih,  atau  kita  bisa  memperparah  sakitnya.  Bumi  kita  ini  organisme  hidup
        berinteligensi tinggi dan dia sadar atas semua yang kita lakukan padanya. Saya percaya
        itu.”


          “Saya juga, Pak,” gumamku.

          “Nah, kalau kita bisa melihatnya demikian, monumen-monumen seperti ini akan punya
        makna  baru.  Bagaimana  bisa  ia  berdiri  di  titik  ini?  Apakah  semata-mata  karena  faktor
        inteligensi manusia yang membangunnya? Atau sebetulnya ada dialog antara Bumi dan
        manusia?”

          Mendengar perkataan Pak Simon, julangan batu-batu ini membawa persepsi lain.

          “Tidak pernah ada kesimpulan pasti tentang misteri tempat ini, Zarah. Yang jelas, pada
        satu titik di masa lalu, entah kapan, para pembangun Stonehenge punya kapasitas untuk

        mengangkut  batu  biru  yang  jumlahnya  ada  delapan  puluh  dengan  berat masing-masing
        tiga sampai empat ton dari Wales yang jaraknya sekitar 250 kilometer, menegakkan batu-
        batu pasir seberat 30 sampai 50 ton, membuat konstruksi dengan lingkaran sempurna dan
        celah yang tepat dengan lurusan sinar matahari terbit pada musim panas.”

          “Mereka bisa saja dibantu oleh pihak lain,” cetusku.

          “Alien, maksudmu?”

          Aku mengangkat bahu.

          “Banyak  yang  menduga  begitu.  Tapi,  ada  juga  yang  menduga  bahwa  teknologi  yang
        dimiliki  para  pembangun  Stonehenge  jauh  lebih  maju  daripada  yang  kita  perkirakan.

        Malah, bisa jadi lebih maju daripada kita,” kata Pak Simon. “Tahun ‘50-an, waktu tempat
        ini direstorasi, dibutuhkan derek terbesar yang dimiliki industri konstruksi di Inggris saat
        itu untuk mengangkut satu batu Stonehenge. Yang kita lihat ini sudah tidak lengkap lagi.
   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216