Page 217 - Supernova 4, Partikel
P. 217

“Syaman?”

          “Satu-satunya  jalan  paling  jitu  untuk  melacak  ayahmu  adalah  menelusuri  ulang
        penelitiannya. Karena, jika sampai ia menghilang, saya yakin pasti berhubungan dengan
        penelitian yang selama ini dia lakukan.”

          “Hubungannya dengan syaman?”

          “Karena  cuma  dengan  bimbingan  seorang  syaman-lah  kita  bisa  melakukan  apa  yang
        dilakukan ayahmu dengan aman.”


          “Tapi, apa yang persisnya Ayah lakukan, Pak? Kita nggak punya catatan apa-apa!”

          “Kamu tahu dia punya jurnal, kan?”

          Aku menelan ludah. Api itu. “Saya sempat punya, Pak. Lima jurnal Ayah, ditulis tangan.
        Semuanya musnah terbakar. Bertahun-tahun yang lalu. Tidak ada sehalaman pun tersisa.”

          Pak Simon sontak menahan napas. “Rumahmu kebakaran?”

          Aku menggeleng. “Ibu saya yang membakarnya. Dia pikir informasi dalam jurnal itu
        ajaran sesat dan nggak berguna untuk menemukan Ayah,” lanjutku getir.

          “Pantas  saja,”  Pak  Simon  mengangguk-angguk.  “Ayahmu  sudah  mengantisipasi
        kemungkinan itu. Makanya dia mengirimkan fotokopi jurnalnya kepada saya.”

          Nyaris  aku  tersedak  irisan  apel  yang  sedang  kukunyah.  “Pak  Simon  punya  fotokopi
        jurnalnya?”


          Pak Simon gantian menatapku tak percaya. “Untuk barang sepenting itu? Firas? Pasti dia
        menyimpan salinan, Zarah. Tidak mungkin tidak.”

          “Pak Simon sudah pernah baca isinya?”

          “Sudah, sekilas. Ayahmu mengirimkannya tanpa pesan apa-apa sama sekali. Aku sudah
        curiga dia cuma numpang menitip. Dan, karena waktu itu tidak ada indikasi darurat apa-
        apa, saya nggak pernah benar-benar mempelajarinya.”

          Aku  berhenti  mengunyah  sama  sekali.  Berhenti  berkata-kata.  Punggungku  menempel
        rapat pada sandaran kursi berukir itu. Selama ini? Seseorang menyimpan salinan jurnal

        Ayah?

          “Saya menerimanya lewat pos. Sebelas, dua belas tahun lalu? Saya nggak ingat persis.
        Mungkin,  sebelum  Firas  menghilang,  dia  menyempatkan  mengirim  fotokopi  jurnalnya
        kepada saya,” tahu-tahu Pak Simon menatapku cemas, “Zarah, kamu kenapa?”

          Aku  sibuk  menyeka  mataku  yang  berkaca-kaca.  “Waktu  Ibu  membakar  jurnal-jurnal
        Ayah,  saya  pikir  saya  kehilangan  satu-satunya  kesempatan  untuk  menemukannya  lagi.
        Tapi, sekarang saya ketemu Bapak, dan ternyata Bapak menyimpan salinan jurnal Ayah,
        saya….” Aku tak sanggup meneruskan.


          “Kita akan cari Firas,” sahut Pak Simon mantap.

          “Bagaimana dengan syaman yang tadi Bapak bilang? Kita bisa menemukan di mana?”
   212   213   214   215   216   217   218   219   220   221   222