Page 222 - Supernova 4, Partikel
P. 222

“Hari pertama adalah hari yang berat. Sepertinya itu jadi momen detoks besar-besaran
        bagi saya. Padahal, saya nggak punya adiksi apa-apa. Iboga menunjukkan segala hal yang
        kamu perlukan untuk penyembuhanmu, untuk luka dan sakit yang kamu bahkan nggak
        sadari,” Hawkeye menambahkan.

          “Penyembuhan seperti apa? I’m not sick,” kataku cepat.

          “Saya  nggak  mau  cerita  banyak.  Saya  nggak  mau  mengintervensi  persepsimu,  Zarah.

        Alami saja. If you trust Nature as you much as you told me, then you shall trust The Spirit
        of Iboga. Dia yang nanti akan membimbingmu. Saya hanya memfasilitasi di alam ini. Di
        alam spirit, kamu akan ditemani oleh Iboga.”

          “Kamu bicara tentang Iboga kayak dia manusia,” komentarku.

          “You shall see,” sahut Hawkeye kalem.

          “Kamu akan baik-baik saja, Zarah,” Pak Simon menimpali.

          Dari air mukanya, aku menebak bahwa Pak Simon pun tak akan bicara soal pengalaman
        Iboga-nya. Percuma bertanya.

          “Saya bukan syaman Bwiti. Saya akan membimbingmu sebisa saya. Creating a sacred

        space for all of us, in a way that I know. Satu-satunya bagian dari ritual asli yang bisa saya
        ulangi  di  sini  hanya  memberi  kamu  ini,”  Hawkeye  menyerahkan  cermin  bergagang.
        “Ketika kamu mulai merasakan efek Iboga di tubuhmu, usahakan lihat ke cermin ini.”

          Aku menyimpan cermin itu. Ragu. Membayangkan apa yang nanti akan kutemukan di
        sana.

          “Kita akan mulai kalau matahari sudah turun,” ucap Hawkeye.

                                                                                                             10.

        Aku  jatuh  tertidur  di  sofa  panjang  di  perpustakaan.  Terbangun  lagi  ketika  Hawkeye
        mengguncang pelan bahuku, berbisik, “Zarah, it’s time.”


          Langit  di  luar  sudah  kemerahan,  tampak  dari  refleksi  tirai  besar  di  jendela.  Aku
        kemudian  pamit  sebentar  untuk  mandi.  Rasanya  aku  ingin  membersihkan  diri  sebelum
        memulai ritualku yang pertama.

          Lima belas menit kemudian, kami berkumpul di kamar tidurku. Kamar tidur ini lebih
        menyerupai  apartemen  mungil.  Tempat  tidur  besar,  kamar  mandi  sendiri,  dan  pojokan
        yang  cukup  lega  dengan  sepasang  sofa  untuk  menerima  tamu.  Di  sinilah  kami  akan
        menghabiskan malam bersama-sama.

          Di  dalam  sebuah  mangkuk  kaca,  membukitlah  bubuk  kehitaman.  Hawkeye
        membawanya ke hadapanku.


          “Ini dosis kecil? Sedang? Besar?” tanyaku.

          “Iboga  dosis  kecil  cuma  menambah  sensitivitas  pancaindra.  Bukan  itu  yang  kita
        butuhkan, toh?” Hawkeye tersenyum. “Hanya Iboga dosis besar yang bisa membawamu
        menyeberang ke dunia spirit.”
   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227