Page 223 - Supernova 4, Partikel
P. 223

Aku memperkirakan ada dua sendok makan munjung bubuk Iboga di hadapanku kini.

          “Kunyah? Telan?”

          “Kunyah lebih bagus. Kalau tidak kuat, telan juga boleh. Saya siapkan madu.”

          Kupandangi bubuk hitam dalam mangkuk kecil kaca itu. Menyiapkan hati. Sekaligus,
        kutenggak seisi mangkuk.

          Sejenak,  tak  bisa  kudefinisikan  rasanya.  Tapi,  setelah  lidahku  mengecap  bubuk  itu
        dengan lebih menyeluruh, aku menduga begitulah rasa bubuk gergaji dicampur isi baterai.

        Lewat empat kunyahan, aku tak kuat lagi. Beberapa kali aku tersedak menahan muntah.
        Buru-buru kuminum madu yang disiapkan Hawkeye. Duduk lagi di tempat tidur.

          Tak  lama,  terdengar  bunyi  genderang.  Ternyata,  Hawkeye  membawa  genderang  kulit
        kecil. Ia bernyanyi asyik sambil memainkan genderangnya, memejamkan mata, seolah aku
        dan Pak Simon tak ada di ruangan.

          Setengah  jam.  Tidak  terjadi  apa-apa  lagi  selain  ketukan  genderang  dan  nyanyian
        Hawkeye. Aku hanya berbaring.

          Empat puluh lima menit. Nyanyian Hawkeye sudah berhenti. Masih tidak terjadi apa-

        apa. Aku mulai meragu dengan dosis yang tadi diberikan oleh Hawkeye.
          Sementara itu, tampak Pak Simon masih tenang membaca buku di pojok, dan Hawkeye

        duduk bermeditasi.

          Lima  puluh  lima  menit.  Aku  mengecek  lagi  jam.  Menyadari  hatiku  mulai  gelisah.
        Bertepatan dengan itu, Hawkeye bangun dari meditasinya.

          “Kamu mau coba meditasi bareng saya, Zarah?” tanyanya. “I’ll guide you.”

          “I’m not sure,” jawabku. Jujur.

          “Kamu sudah pernah meditasi sebelumnya?”

          Aku menggeleng.

          “Relaks saja. Duduk, atau berbaring. Sadari apa pun yang terjadi pada tubuhmu, pada
        pikiranmu. Tidak usah dilawan. Amati saja.”

          Mungkin ada baiknya dicoba, pikirku. Tapi, saat ini rasanya aku lebih butuh jalan-jalan.

        “Sebentar, saya mau jal—”

          Kalimatku  terputus.  Gerakanku  yang  bangkit  berdiri  pun  terputus.  Kakiku  tak  bisa
        digerakkan. Aku ambruk lagi ke tempat tidur.

          Kepalaku  mulai  berputar,  badanku  gemetar.  Butir-butir  keringat  dingin  mulai  kurasa
        bermunculan di sekujur tubuh. Napasku mulai satu-satu.

          Sayup, seperti dari kejauhan, padahal aku tahu ia berada di dekatku, terdengar Hawkeye
        berkata, “Let go, Zarah. Kamu akan baik-baik saja.”

          Rasa  mual  dan  pusing  menyerangku  gelombang  demi  gelombang.  “M–muntah…

        muntah…,” rintihku.
   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227   228