Page 224 - Supernova 4, Partikel
P. 224

Entah siapa yang menyodorkan baskom ke depanku, aku sudah tak tahu lagi. Yang jelas,
        muntahku  langsung  menghambur  keluar  begitu  melihat  ada  baskom  yang  siap
        menampung.  Aku  muntah  berkali-kali.  Hawkeye  sudah  mengingatkanku  untuk  makan
        sesedikit mungkin hari ini. Namun, rasanya aku memuntahkan makananku sejak setahun
        yang lalu. Sampai tak ada lagi yang tersisa selain air dan angin.

          Aku  merintih  dan  mengerang.  Badan  ini  diremuk  redam  satu  demi  satu  bagian.

        Sistematis dan menyakitkan. Timbul rasa kesal dan sesal. Mengapa kulakukan ini? Ingin
        rasanya kubatalkan keputusanku. Tapi, terlambat. Tidak ada penawar untuk Iboga. Siksa
        ini harus dijalani sampai titik penghabisan.

          Sayup, terdengar lagi suara Hawkeye, “Let go. Trust the spirit.”

          Aku  berusaha  membuka  mata.  Tapi,  pandanganku  begitu  terdistorsi.  Seperti  televisi
        rusak. Muncul garis-garis hitam. Semuanya bergoyang. Aku berusaha melihat jam. Aku
        berusaha  melihat  Hawkeye  dan  Pak  Simon.  Namun,  mereka  seolah  terpisah  lapis  kaca

        yang  tak  bisa  kutembus.  Baskom  yang  kupegang  dengan  kedua  tanganku  pun  tak
        terhubung  lagi  dengan  realitasku,  walau  aku  masih  muntah-muntah  sambil  memegang
        kedua sisinya. Entah siapa “aku” itu. Diriku direnggut jauh, makin jauh, entah ke mana.
        “Aku” menghilang.

          Kendaliku  atas  waktu  ikut  menghilang.  Visual,  rasa  di  tubuh,  rasa  di  hati,  tidak  lagi
        berpijak di dimensi yang kukenal. Segalanya terasa panjang dan lama.

          Kasur tempat tubuhku terbaring bertransformasi menjadi sebuah lubang yang menelanku
        pelan-pelan.  Ada  kekuatan  yang  membelesakkanku.  Mendorongku.  Berat  mengimpit

        dada.

          Perlahan, seiring dengan melumpuhnya tubuhku bagian demi bagian, sebuah kesadaran
        merambat naik. Inilah kematian, batinku.

          Lamat-lamat  aku  menyadari  di  ruangan  itu  ada  penghuni-penghuni  lain  di  luar  kami
        bertiga. Mataku berketap-ketap. Berusaha mengusir mereka. Tapi, mereka tetap di sana.
        Ini bukan halusinasi, aku membatin lagi.

          Aku  memberanikan  diri  mengamati  wajah-wajah  itu.  Aku  tak  yakin  aku  mengenali
        mereka.  Kebanyakan  hanya  terlihat  seperti  bayangan.  Beberapa  ada  yang  tampak  lebih

        jelas. Mereka diam kaku, tatapan mereka dingin, kulit mereka seperti tak pernah diterpa
        matahari. Kelabu.

          Aku tak merasa mereka berniat jahat. Namun, aku juga tak nyaman dengan kehadiran
        mereka. Anehnya, mereka seperti tahu itu. Beberapa dari mereka menghilang. Kumpulan
        itu melengang.

          Di  baris  paling  belakang,  berdirilah  sesosok  yang  berbeda.  Tubuhnya  tinggi  besar,
        kulitnya  hitam  kecokelatan,  tampak  bertekstur  mirip  batang  pohon.  Fitur  wajah  dan

        badannya menunjukkan ras negroid. Namun, ia juga tidak terlihat seperti manusia biasa.
        Matanya hanya bola besar berwarna hitam. Berkilau bagai obsidian. Ia tidak berkata-kata.
        Tapi, aku merasa ia berbicara kepadaku.

          “Mirror… mirror….” Terdengar lagi sayup suara Hawkeye.
   219   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229