Page 226 - Supernova 4, Partikel
P. 226

untuk  meluncur  tidak  muncul.  Seolah  aku  sengaja  ditahan  di  sana.  Storm  pun  hadir.
        Tersenyum hangat. Senyuman yang membuatku jatuh hati. Tak lama, seseorang muncul di
        belakangnya, Koso.

          Kehadiran  mereka  menyadarkanku  akan  sebuah  rongga  hitam  dalam  dadaku.  Rongga
        kosong dengan gravitasi kuat, mengisap segalanya. Segala yang indah. Rongga yang tidak
        mengizinkanku berbahagia. Dan, tiba-tiba saja, muncul kesadaran entah dari mana, bahwa

        akulah yang menyabotase hidupku sendiri. Bukan Storm. Bukan Koso. Bukan siapa pun
        yang  kuanggap  pernah  mengkhianatiku.  Melainkan  rongga  yang  kupelihara  sendiri.
        Kehancuranku adalah makanan baginya.

          Segumpal besar emosi menghantam dadaku dan aku ingin menjerit. Lorong itu bergerak
        lagi.  Dan,  aku  tiba  di  kamar  orangtuaku.  Jeritanku  yang  tadi  tertunda  kini  terdengar
        melengking, mendenging memenuhi ruangan, memekakkan kepalaku, tapi suara itu bukan
        berasal dari diriku. Melainkan dari sebuah bungkusan di tempat tidur.


          Bungkusan  itu  lalu  mengguling  jatuh,  terbuka  di  lantai.  Seorang  bayi  bermata  merah
        darah menggeliat keluar. Tangannya yang tak sempurna berusaha meraihku. Adek.

          Manusia  kayu  tadi  sekonyong-konyong  muncul  dari  belakang  bahuku,  dan  aku  dapat
        merasakan ia berkata, “Peluklah.”

          Seketika  aku  menghambur,  mendekap  makhluk  mungil  yang  penuh  luka  itu  dengan
        segenap  hati,  dengan  segenap  kerinduan  yang  terasa  pedih  mengiris.  Bertubi-tubi,  aku
        memohon maaf kepadanya. Atas ketidakberdayaanku, atas kegagalanku melindunginya,
        atas kegagalan kami memahaminya.


          Dalam dekapanku, Adek melebur menjadi rasa hangat yang memenuhi rongga kosong di
        dada.  Kehangatannya  memenuhi  setiap  molekul  dan  mengisi  celah  di  antaranya.
        Memberiku         rasa    kecukupan.       Dengan       segala     ketidaksempurnaannya,           Adek
        menyembuhkanku.  Inilah  rasa  nyaman  pertama  yang  kurasakan  sepanjang  perjalanan
        Iboga.  Memeluk  adik  yang  tak  sempat  kukenal  dan  berdamai  dengan  keterbatasanku.
        Menerima bahwa tak mungkin aku sanggup melindungi semua orang yang kucinta.

          Iboga  belum  selesai.  Kembali  gelombang  rasa  mual  menghantam.  Aku  muntah  lagi.

        Bedanya, aku tidak merasa tersiksa. Meski terus tremor dan mengucurkan keringat dingin,
        muncul  keyakinan  bahwa  ini  adalah  proses  pembersihan  yang  perlu  kulalui.  Hatiku
        berhenti melawan.

          “Can  you  tell  us  what  you  see?  Zarah?”  Terdengar  kembali  suara  Hawkeye.  Entah
        sudah  berapa  kali  ia  memanggil-manggil  sejak  tadi,  mengulang  pertanyaan  yang  sama.
        Baru kali ini aku sanggup bicara.

          “Ada orang… seperti pohon… hitam… matanya hitam…,” jelasku tergagap.

          “Spirit of Iboga,” balas Hawkeye lembut. “Kamu sudah bertemu dengannya.”

          Mataku kembali memejam. Sisa malam itu aku berhenti muntah. Hanya melayang dan

        meluncur dalam alam antah-berantah. Mimpi dan realitas teraduk. Memori dan halusinasi
        bercampur. Batasan yang biasanya begitu jelas dan baku kini lebur sudah.
   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231