Page 225 - Supernova 4, Partikel
P. 225

Kata-kata  Hawkeye  mengingatkanku  akan  cermin  bergagang  yang  sedari  tadi
        kubaringkan di sisi. Tanganku menggapai-gapai. Sulit sekali berpijak pada realitas fisik,
        pada  ruangan  ini,  benda-benda  ini.  Permintaan  Hawkeye  terasa  mustahil.  Namun,  aku
        berusaha sekuat tenaga.

          Tanganku akhirnya berhasil menggenggam cermin. Sambil meringkuk, menahan tremor
        yang  mengguncang  seluruh  tubuh,  kuhadapkan  cermin  itu  di  depan  muka.  Berusaha

        melihat refleksi yang disuguhkannya.

          Sosok  manusia  kayu  itu  kembali  muncul.  Persis  di  belakang  bahu.  Mata  obsidiannya
        mencekamku,  mengisapku  masuk  ke  lorong  hitam  yang  tercipta  dari  bola  matanya.
        Cerminku terlepas. Melorot jatuh ke lantai. Kudengar sayup benturan bingkai peraknya
        beradu dengan lantai.

          Kesadaranku  meluncur  dalam  lorong  itu.  Terlihat  pola-pola  geometris  yang  berganti
        cepat, membesar, mengecil, berpendar. Monokrom. Dan, tiba-tiba lorong itu berhenti. Aku

        melihat sebuah ruangan yang kukenal. Kamar tidurku di Bogor.

          Kulihat  diriku  yang  masih  kecil  terbaring  di  tempat  tidur,  terbungkus  selimut  wol
        cokelat, ada sesosok pria yang mengecup keningku dan berkata, “Jangan sombong jadi
        manusia.” Ayah.

          Kukerjapkan  mataku.  Tak  lagi  bisa  kubedakan  mana  visual  asli  dan  mana  yang
        halusinasi. Bayangan Ayah menghilang. Kamar tidurku lenyap. Dan, aku meluncur lagi
        dalam lorong monokrom itu.

          Tak  lama,  nuansa  hitam  putih  itu  mulai  berganti  jadi  berwarna.  Oranye  kekuningan.

        Belakangan,  aku  menyadarinya  sebagai  api.  Dari  balik  lidah  api  yang  meliuk,  samar
        kulihat sosok Ibu dan Hara. Wajah mereka cemas, menangis. Aku melihat sekelilingku.
        Ternyata, akulah yang tengah dirubung api. Bersama lembaran-lembaran jurnal Ayah yang
        bertebaran.

          Bersamaan  dengan  itu,  ada  panas  membakar  terasa  di  ulu  hati,  yang  kemudian
        bertransformasi  menjadi  gelombang  rasa  mual.  Enek  yang  sudah  berkumpul  di  leher
        membuatku kembali tersadar akan tubuhku. Setengah mati aku berusaha membalik badan,

        merangkak. Entah Hawkeye atau Pak Simon yang kembali sigap menyodorkan baskom.
        Aku muntah lagi.

          Setiap sehabis muntah, keringat dingin membanjir. Dan, aku berharap itu pertanda efek
        Iboga mereda. Tapi, tidak. Iboga masih mencengkeramku erat. Kembali aku diempaskan
        ke dalam lorong monokrom.

          Kali  ini,  beberapa  ruang  dan  adegan  berjalan  tumpang-tindih.  Aku  merasa  digiring
        melihat  ulang  kehidupanku,  masa  kecilku,  bercampur  dengan  tempat-tempat  yang  tak
        pernah  kulihat.  Ada  gedung  zaman  Belanda,  ada  hutan  yang  tak  pernah  kumasuki,  air

        terjun  yang  tampak  asing,  wajah-wajah  yang  tak  kukenal.  Dan,  otakku  tak  sanggup
        menganalisis. Aku hanya bisa pasrah menyaksikan potongan demi potongan gambar.

          Gambar-gambar itu kemudian melambat dan aku kembali berhenti di sebuah ruangan.
        Apartemen Storm. Ketika mengenali ruangan itu, seketika aku ingin kabur. Sialnya, lorong
   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230