Page 227 - Supernova 4, Partikel
P. 227

11.

        Hari kedua, yang tidak kurasakan seperti 24 jam melainkan tak berbatas, aku sepenuhnya
        terbaring di tempat tidur. Hanya berjalan tertatih ke kamar mandi jika perlu buang air. Di
        kesempatan tiga-empat kali aku ke kamar mandi itulah, kurasakan secercah koneksi ke
        dunia yang kukenal. Sisanya, aku ada di alam Iboga.

          Tubuhku  lemas  seperti  kain,  menggeletak  di  atas  kasur.  Tremor,  mual,  dan  keringat

        dingin, datang silih berganti. Saat memejamkan mata, aku melihat pola-pola geometris,
        aku  melihat  gambar  dan  bayangan  yang  tak  kukenal,  entah  alam  apa  itu,  entah  kapan,
        entah  siapa.  Ada  arus  memori  yang  seperti  dipicu.  Ada  arus  informasi  yang  seperti
        diunduh oleh otakku. Semua itu mengalir deras tanpa bisa kukendalikan.

          Pada pagi hari ketiga, terjadi perubahan drastis. Tubuhku ringan. Yang kurasakan hanya
        nyaman.

          Sinar matahari mulai menembusi celah-celah kecil dari tirai jendela kamarku. Dinding-
        dinding memendarkan cahaya dan kamar ini terselimuti terang yang lembut. Rasanya aku

        ingin  melonjak  menyambut  keindahan  pagi.  Tiba-tiba  saja  dengan  mudah  kudekati
        jendela. Terlalu mudah. Hingga rasanya aku mengambang mendekati langit-langit kamar.
        Dan, pada saat itulah, aku menyadari aku tak lagi bersatu dengan jasadku.

          Kutengok ke bawah dan terlihat tubuhku meringkuk dalam selimut. Anehnya, aku tidak
        takut. Bahkan, kunikmati betul rasa ringan ini. Kebebasan ini. Ringan, melayang, seolah
        kesadaranku bersatu dengan udara.

          “Zarah.”

          Aku menengok ke bawah lagi. Mendapatkan Abah sedang duduk di pinggir tempat tidur.

        Ia  mengenakan  setelan  baju  koko  putih  dengan  bordir  biru  muda  di  bagian  dada.  Peci
        putihnya  melekat  di  kepala.  Wajahnya  bersih  seperti  baru  bercukur.  Abah  menatapku
        jenaka.  Mata  bundarnya,  yang  dinaungi  alis  hitam  lebat  yang  mulai  bercampur  uban,
        bersinar hangat. Tatapan yang samar kuingat dari kenangan masa kecil, saat sesekali ia
        berbaik hati membelikan balon dari tukang mainan yang lewat dengan gerobak setiap hari
        Minggu.

          “Sini, Abah mau ngobrol,” panggilnya.


          Aku menghampirinya. Entah bentukku seperti apa, karena ada Zarah lain yang sedang
        tertidur. Namun, jelas Abah sedang menatapku dan mengajakku bicara.

          “Kamu masih marah sama Abah?” tanyanya.

          Aku tersenyum. “Nggak, Bah. Dulu, iya. Zarah pernah marah sekali. Sekarang nggak
        lagi. Abah masih marah sama Zarah?”

          Abah balas tersenyum. “Nggak. Abah sayang sama Zarah. Paling sayang.”

          “Ini… Abah betulan, kan?” tanyaku. Meragu. Tak pernah Abah selembut ini.

          “Ini hati Abah.”

          “Ini hati Zarah,” bisikku.
   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232