Page 228 - Supernova 4, Partikel
P. 228

Aku  menghambur  memeluknya.  Merasakan  tangan  besarnya  yang  balas  merengkuh.
        Dalam pelukan Abah, aku bagaikan boneka mungil yang rapuh. Tak peduli umurku empat
        tahun  atau  dua  puluh  tiga.  Dan,  tangannya  adalah  pilar  kokoh  yang  menopangku.
        Melindungiku dari wajah dunia yang tidak ia kenal.

          “Kamu cucu Abah paling pintar. Paling berani. Kamu jaga baik-baik ibu dan adikmu,
        ya.”


          “Abah, Zarah minta maaf.”

          “Abah juga.”

          Sekilas, kutangkap bayangan hitam di balik punggung kakekku. Manusia kayu itu lagi.
        Ia  hadir  menontoni  kami  berdua.  Dan,  ketika  kutatap  mata  obsidian  itu,  kembali  aku
        terisap.

          Napasku  menderu.  Ada  rasa  berat  menggelayuti  bagian  tubuhku  satu-satu.  Aku  tidak
        lagi  melayang.  Abah  menghilang.  Dan,  ruangan  itu  meredup.  Mataku  mengerjap,
        kugerakkan jemariku, berusaha mengukur kenyataan apa yang kini kupijak.

          Kutengok  jendela.  Kembali  mendapatkan  sinar  matahari  yang  menembusi  celah  tirai.

        Tapi, rasanya beda dengan tadi. Yang ini lebih familier. Bermimpikah aku barusan?

          “Zarah. Welcome back.” Suara Hawkeye menyadarkanku. Ia bangkit dari sofa di pojok
        kamar.

          “Dari tadi kamu duduk di situ?” tanyaku.

          “Saya tidur di sofa ini dari semalam.”

          “Kamu nggak lihat siapa-siapa lagi barusan?”

          “No.”

          “Am I still alive?”

          Hawkeye tergelak. “Saya panggilkan Simon sebentar,” katanya seraya berjalan ke pintu.

          Pintu  kamar  sudah  duluan  membuka.  Pak  Simon  masuk.  “Selamat  pagi,”  sapanya.
        “Gimana sekarang rasanya?”

          “Aneh,” jawabku langsung.


          “Kamu bisa jalan?”

          Aku mencoba. Tubuhku ternyata masih limbung. Tremor itu belum sepenuhnya hilang,
        walau getarannya halus dan hanya sesekali.

          “Istirahat dulu saja seharian ini, Zarah,” kata Hawkeye. “Tenagamu baru seratus persen
        pulih besok pagi.”

          “I need to make a phone call.”

          Hawkeye bengong, “Phone call? Now?”

          “Zarah, sebaiknya kamu baringan dulu. Memangnya ada keperluan mendesak?” tanya
   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232   233