Page 235 - Supernova 4, Partikel
P. 235

“Nggak tahu. Saat ini hidup terlalu mengejutkan untuk memastikan apa pun.”

          “But, if I say ‘please’, will you come back?”

          Zarah tersenyum, “Mungkin.”

          “Please come back,” sahut Paul cepat, “please?”

          “Saya pikir-pikir dulu.”

          “Or I will have to hunt you down.”

          Tawa Zarah meluncur lepas. “Try me,” sahutku.

          “I’m going to miss you.”

          Hening sebentar di ujung sini. “Sama,” balas Zarah setengah bergumam.

          Paul  menguatkan  hati,  bersiap  menyampaikan  satu-satunya  pertanyaan  penting,
        “Pelarian kamu selesai?”


          Tak ada jawaban. Hanya embusan napas berat. Paul sabar menanti.

          “Saya tidak lagi berlari. Cuma mencari,” akhirnya Zarah menjawab. “Dulu, keduanya
        bercampur. Sekarang, tidak lagi.”

          Paul  mengembuskan  napas  lega.  Perjuangannya  tidak  sia-sia.  “Take  care,  love,”
        ucapnya.

          “You too.” Zarah menutup telepon itu. Ia amat memahami kelegaan Paul. Upaya Paul
        selama ini menyuruhnya pulang tercapai.

          Melalui Abah, Zarah menemukan kembali jalan itu.





        Perjalanan tiga belas jam menuju Singapura sebelum penerbangannya lanjut ke Jakarta,
        Zarah  isi  ulang  dengan  membaca  ulang  jurnal  Firas.  Dari  segala  yang  telah  diberikan
        Simon  Hardiman  dalam  sembilan  hari  kunjungannya  ke  Glastonbury,  inilah  oleh-oleh
        terpenting. Pencariannya yang sempat kehilangan peta kini kembali ke jalur semula.

          Setelah menyaksikan sendiri bagaimana buku-buku itu berubah menjadi abu, tak pernah
        Zarah membayangkan bisa bertemu lagi dengan lembar-lembar bertulisan tangan ayahnya.
        Bayangan  lidah  api  yang  menjilati  jurnal  Firas  di  kebun  belakang  masih  jelas  dalam

        ingatan Zarah. Meski yang sekarang ia pegang hanya fotokopinya, kini ia bisa membaca
        tanpa diikuti lagi dengan lidah api yang membakar hati.

          Bermacam perasaan menyerbu Zarah saat merunuti ulang kisah dan sketsa yang dulu ia
        jadikan  dongeng  pengantar  tidur  setiap  malam.  Jurnal  terlarang  yang  dicari  polisi  dan
        dianggap buku sesat oleh keluarganya.

          Di  jurnal  terakhir,  tiba-tiba  ia  temukan  keganjilan.  Ada  selembar  halaman  yang  dulu

        tidak ada. Ditulis bukan dengan tulisan tangan ayahnya, melainkan diketik dengan mesin.
        Halaman itu menjadi halaman penutup jurnal terakhir Firas.
   230   231   232   233   234   235   236   237   238   239   240