Page 47 - Supernova 4, Partikel
P. 47

Aku membongkari tiap kamar, mencari ke segala tempat yang mungkin diselipi buku.
        Tak  kutemukan  apa-apa  lagi.  Mereka  sudah  mengambil  semuanya.  Mengapa  pekerjaan
        Ayah  ikut  dilirik  oleh  pihak  kepolisian,  aku  pun  tak  mengerti.  Bukankah  seharusnya
        mereka  cuma  ditugasi  untuk  mencari  tahu  keberadaannya?  Bukan  menyita  barang-
        barangnya?

          Lunglai,  terduduklah  aku  di  saung  di  tengah  kebun  permakultur  Ayah  yang  rimbun.

        Ayah sudah mewariskan semua ini kepadaku, dan aku gagal menjaganya.

          Kepalaku  yang  menunduk  lemas  tahu-tahu  menegang.  Sesuatu  mencuri  perhatianku.
        Beberapa  batang  jamur  mencuat  dari  tanah  sekitar  kaki  saung.  Psilocybe
        subaeruginascens.

          Aku menyapa mereka, “Hai, ngapain di situ?”

          Berbicara dengan fungi adalah hal normal di sini. Ayah mengajari kami, termasuk para
        petani, untuk tidak segan berbicara pada tanaman. Apalagi kepada fungi. Dia bilang, itu
        akan membuat mereka tambah subur. Terlepas benar atau tidak efeknya demikian, yang

        jelas makhluk-makhluk ini adalah pendengar yang luar biasa, yang tidak akan memotong
        kita bicara atau memberikan solusi tak perlu. Sering kali aku lebih senang bicara pada
        tanaman ketimbang kepada sesama manusia.

          Aku  pun  berjongkok  mendekati  jamur-jamur  berpayung  cokelat  itu,  pandanganku
        tergiring  untuk  melongok  ke  kolong  saung.  Tepat  di  atas  kawanan  Psilocybe
        subaeruginascens  itu  berkumpul,  kulihat  bungkusan  plastik  direkatkan  ke  balik  lantai
        saung dengan selofan. Kuraba bungkusan itu. Buku!


          Segera  kuambil  cutter  dari  kantong  belacuku,  kulepaskan  bungkusan  itu  dari  balutan
        selofan. Tak salah lagi. Jurnal Ayah. Dan, perasaanku berkata, masih ada yang lainnya.

          Aku  berjalan  jongkok  mengitari  saung.  Kudapati  lagi  sekelompok  Psilocybe
        subaeruginascens.  Benar  saja.  Tepat  di  atasnya,  lagi-lagi  kutemukan  bungkusan  plastik
        serupa. Aku terus berkeliling.

          Kudekap  kantong  belacuku  yang  kini  bengkak  karena  kepenuhan.  Ada  kelegaan  luar
        biasa yang sejenak menyapu kumulasi kecemasanku atas hilangnya Ayah.

          Total ada empat jurnal yang kutemukan. Empat kelompok Psilocybe subaeruginascens

        berjaga di bawahnya layaknya pasukan pengawal.

          Aku  membungkuk  di  depan  saung.  “Terima  kasih,”  bisikku.  Dan,  aku  yakin  mereka
        mendengar.

          Kutinggalkan  kebun  sambil  kuulang-ulang  pesan  Ayah  dalam  hati:  Semua yang ingin
        kamu cari ada di sini. Aku berharap, termasuk di dalamnya adalah cara menemukan dia.

                                                                                                             10.

        Hari demi hari berjalan. Dengan cara masing-masing, kami berupaya mencari jejaknya.

          Selain mengandalkan jasa polisi, Ibu dan Abah juga pergi ke beberapa tempat di Jawa
        Barat,  Tengah,  Timur,  demi  meminta  bantuan  kepada  “orang  pintar”  yang  memang
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52