Page 45 - Supernova 4, Partikel
P. 45

bertransformasi.

          “Kapan Zarah bisa membantu Ayah jadi—mediator?” tanyaku sambil berharap semoga
        tak salah mengucap.

          Ayah  tersenyum.  “Kapan  pun  kamu  mau,  Zarah.  Kapan  pun  kamu  siap.  Sudah  Ayah
        wariskan ruangan ini dan isinya untukmu. Apa pun yang ingin kamu tahu bisa dicari di
        sini.”

          Aku ikut tersenyum. Laba-laba pun bisa tersesat di tempat ini. Ayahku terkadang sangat

        lucu.

          Kami pergi bertiga ke kebun permakultur Ayah. Bermain di sana seharian. Hara sampai
        tidur siang di saung. Aku sibuk memanen jamur tiram yang sudah gemuk-gemuk. Ayah
        mengamati koleksi funginya sambil sesekali menulis khusyuk di jurnalnya. Tak ada yang
        luar biasa dari kegiatan kami hari itu, tapi itulah salah satu kenangan masa kecilku yang
        paling indah.

          Tepatnya, kenangan terakhirku tentang Ayah.

                                                                                                               9.


        Esok paginya, aku terbangun karena udara yang terasa lebih dingin dari biasa. Ternyata
        pintu kamarku terbuka. Langit di luar masih biru keabuan, matahari baru akan terbit.

          Hal kedua yang kusadari adalah kantong belacuku yang tahu-tahu ada di lantai sebelah
        tempat  tidur.  Dilihat  dari  bentuknya  yang  membesar,  aku  yakin  ada  sesuatu  yang
        dimasukkan ke dalam tas itu. Benar saja. Saat kuperiksa, jurnal Ayah ada di sana. Buku
        tebal  berisi  gabungan  carikan  kertas  yang  ia  bolong-bolongi  dan  jahit  sendiri  memakai
        benang kasur.

          Ada yang tidak beres, batinku. Aku pun menghambur ke luar kamar. Sofa kami tampak

        resik, tidak ada bekas ditiduri. Ruang kerja Ayah yang biasanya terkunci, terbuka lebar.
        Tidak ada siapa-siapa di sana.

          Aku berlari ke luar. Sepeda Ayah, yang biasanya tersandar di tembok teras, tidak ada.

          Berusaha  kutenangkan  diriku  sendiri,  mengatakan  dalam  hati  berulang-ulang  bahwa
        Ayah sudah biasa begini. Ia bisa hilang satu-dua malam tanpa kabar. Namun, rasa resah itu
        begitu bergemuruh sampai perutku ikut terkocok-kocok.

          Seharian  itu  aku  mulas-mulas.  Bolak-balik  ke  kamar  mandi.  Ibu  mengira  aku  masuk
        angin gara-gara tidur dengan pintu kamar terbuka. Aku tahu ini bukan angin. Aku stres.

        Ada yang tidak beres dengan Ayah.

          Dua  puluh  empat  jam  berlalu.  Kemudian,  48  jam.  Ibu  mulai  ikut  resah,  tapi  ia  terus
        berusaha positif dengan mengingat-ingat kebiasaan-kebiasaan negatif Ayah. Ah, palingan
        dia kabur ke tempat terkutuk itu. Mungkin dia pingsan di sana. Tenang saja, nanti juga
        pulang.  Mana  kuat  dia  lama-lama  nggak  ketemu  kamu,  Zarah.  Aku  menahan  diri  tak
        berkomentar. Pada hari keempat, Ibu mulai panik.

          Abah mulai dilibatkan. Setelah itu, kepolisian. Beberapa petugas berseragam datang ke
   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50