Page 48 - Supernova 4, Partikel
P. 48

keahliannya mencari orang hilang. Warga Batu Luhur tak ketinggalan menurunkan semua
        paranormal  terbaiknya.  Pengajian  khusus  juga  beberapa  kali  digelar  untuk  membantu
        kepulangan Ayah.

          Bukit Jambul kembali menjadi sasaran. Lagi-lagi, berbagai cerita serupa tapi tak sama
        sampai ke kupingku. Firas sudah diultimatum oleh istri jinnya untuk memilih salah satu,
        dia  atau  Aisyah,  dan  Firas  memilih  tinggal  di  alam  jin.  Bayi  setengah  ular  yang  dulu

        dilahirkan Aisyah adalah peringatan keras dari para jin. Firas akhirnya berkorban demi
        keselamatan Aisyah dan anak-anak.

          “Orang  pintar”  dari  berbagai  pelosok  Jawa  yang  ditemui  Ibu  dan  Abah  pun
        mengeluarkan analisis yang mirip-mirip, semuanya menyinggung alam lain dan jin. Ada
        yang bilang Ayah menyeberang karena memang ingin pindah alam, ada yang bilang Ayah
        diculik, ada yang bilang Ayah berkorban sebagai tumbal.

          Polisi  mengaku  tidak  menemukan  apa-apa.  Dalam  pencarian  mereka  yang  berbulan-

        bulan  dan  tanpa  hasil  itu,  polisi  menyita  lebih  dari  setengah  koleksi  buku,  berkas,  dan
        dokumen Ayah dengan dalih penyelidikan. Membuatku berang dan curiga setengah mati.
        Aku  tidak  rela  ruang  kerja  Ayah  diubrak-abrik,  dan  aku  juga  tidak  percaya  kalau  satu-
        satunya kepentingan mereka hanyalah mencari Ayah. Ada hal lain yang menjadi motif di
        balik penyitaan itu. Entah apa.

          Pada satu titik, mereka semua menyerah. Polisi, Ibu, Abah, dan Batu Luhur. Dalam bilik
        pribadi  orang-orang  yang  dekat  dengan  Ayah,  mereka  mungkin  masih  berharap  dan

        berdoa. Tapi, segala upaya investigasi praktis berhenti. Ayah hilang ditelan bumi.

          Jika memang suratan takdirnya Firas kembali, ia akan kembali. Kalau bukan, ke ujung
        dunia dicari pun tak akan ketemu, demikian konsensus final orang-orang di lingkunganku.
        Mereka pun kembali ke jalur masing-masing, meneruskan kehidupan mereka.

          Sejak hilangnya Ayah, hubungan Ibu dan kakek-nenekku berubah. Abah dan Umi, yang
        tadinya tak pernah berinisiatif mampir ke rumah kami, kini rutin berkunjung. Dua atau
        tiga kali seminggu.

          Perubahan  yang  sama  terlihat  pada  hubungan  Abah  dan  Batu  Luhur.  Abah  kembali

        mengunjungi  kampung,  mulai  terlibat  lagi  di  kegiatan  keagamaan,  kembali  memimpin
        pengajian di sana. Semua itu diawali oleh tujuan bersama mencari Ayah yang kemudian
        bergeser menjadi adaptasi kolektif atas ketiadaannya.

          Tinggal aku yang bertahan mencari. Dengan caraku sendiri. Dan, jadilah aku pihak yang
        terakhir beradaptasi.

          Setiap  malam  selama  berbulan-bulan,  aku  masih  terisak-isak  pelan  di  kamar,
        memandangi  satu  per  satu  orderan  foto  dari  Ayah  dalam  tas  belacuku.  Mencoba
        menghidupkan  lagi  kenangan  saat  aku  berjalan-jalan  dengannya  di  tepian  sungai,  di

        kebun, dibonceng di jok belakang sepedanya.

          Demikianlah  rutinitasku.  Sepanjang  hari  mempelajari  jurnalnya  sampai  frustrasiku
        mentok.  Sepanjang  malam  menangisi  kenangannya  sampai  tertidur.  Siang,  frustrasi.
        Malam, berduka.
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53