Page 44 - Supernova 4, Partikel
P. 44

akses  termudah  bagi  kita,  manusia.  Beberapa  mamalia  laut  juga  menyimpan  informasi
        sama,  tapi  kita  tidak  bisa  mengaksesnya  semudah  kita  mengakses  enteogen.  Dengan
        sesama  mamalia  kita  harus  bertelepati.  Sedikit  sekali  yang  punya  kemampuan  itu.
        Padahal, begitu kita terhubung ke jaringan….” Ayah kembali mendongak, menggeleng-
        gelengkan kepalanya. “Semua informasi itu, koneksi ke semua makhluk, tersedia tanpa

        batas.”

          “Zarah pasti akan bantu Ayah,” tegasku sambil menggenggam tangannya lagi. Berusaha
        menariknya  kembali  ke  realitas  ini.  Kupikir  kantong  belacuku  akan  mengempis.  Salah
        besar.  Kantong  itu  malah  makin  menggembung.  Mediator.  Enteogen.  Jamur  Guru.
        Pertanyaan-pertanyaan baru.

          “Banyak orang akan berusaha menjatuhkan kepercayaan dirimu, meragukan ucapanmu,
        menganggapmu gila. Tidak akan mudah, Zarah. Yang paling sulit dari semua itu adalah
        percaya  kepada  dirimu  sendiri,  percaya  bahwa  kamu  tidak  gila.”  Ayah  mengerjapkan

        matanya,  mengusir  genangan  air  mata.  Baru  itulah  kulihat  ayahku  menangis.  “A–
        adikmu…,”  dia  terbata,  “dia  bukan  anak  jin.  Dia  tidak  dikutuk  Bukit  Jambul.  Dia
        mengalami kelainan gen bernama Harlequin ichtyosis. Butuh berbulan-bulan untuk ayah
        mencari tahu karena ibumu dan Abah nggak kasih izin jenazah adikmu diautopsi.”

          “Jadi, Adek meninggal karena sakit, Yah?”

          “Karena  kelainan  itu,  kulit  adikmu  sangat  kaku  sampai  sulit  bernapas.  Itu  yang
        membuatnya  tidak  bisa  bertahan.  Dia  juga  kena  infeksi  dari  luka-luka  peregangan

        kulitnya.  Jarang  ada  bayi  Harlequin  yang  selamat.  Dilihat  dari  bentuknya,  adikmu
        termasuk yang parah.”

          “Ibu sudah dikasih tahu?”

          Ayah  mengangguk.  “Ibumu  bilang,  sudah  nggak  ada  gunanya.  Penyakit  atau  bukan,
        Ayah tetap bertanggung jawab karena sudah menelantarkan keluarga ini.”

          “Itu  nggak  adil!”  protesku  seketika.  “Orang  Batu  Luhur  harus  tahu  tentang  penyakit
        Adek! Mereka juga harus tahu di Bukit Jambul nggak ada setan!”

          “Belum,  Zarah.  Belum  saatnya,”  balas  Ayah  cepat.  “Bukit  Jambul  harus  tetap  dijaga.
        Lebih baik biarkan begini. Selama orang kampung nggak berani masuk, pohon-pohon itu

        akan dibiarkan hidup. Jamur Guru akan tetap aman. Dan kamu,” Ayah mengusap wajahku,
        “mata  ketigamu  harus  terus  dijaga,  Zarah.  Cuma  itu  yang  bisa  mengantarmu  selamat
        bolak-balik antardimensi. Ngerti?”

          “Gimana  cara  jaganya,  Yah?”  tanyaku.  Aku  bahkan  tak  tahu  di  mana  dan  bagaimana
        wujudnya mata ketiga itu.

          “Jangan sombong jadi manusia. Itu saja.”

          Air mukanya berubah relaks. Ia lalu menggandeng tanganku. “Ayo, kita ke kebun. Kita
        ajak Hara.”


          “Ayah baik-baik saja, kan? Sehat?” tanyaku lagi.

          “Sehat.  Jamur  Guru  tidak  akan  menyakiti  Ayah,”  jawabnya  santai.  Secepat  itu  ia
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49