Page 46 - Supernova 4, Partikel
P. 46

rumah, menanya-nanyai Ibu. Aku tak luput diinterogasi. Kuceritakanlah kegiatanku dan
        Ayah sehari-hari. Petugas itu sibuk mencatat.

          “Jadi, kamu nggak sekolah, Dik?” tanyanya.

          “Nggak, Pak.”

          “Belum pernah sama sekali?”

          “Belum, Pak.”

          Dia  berdecak.  Kepalanya  menoleh  ke  ruang  kerja  Ayah.  Dengan  bahasa  tubuh,  ia
        memberi kode kepada rekannya untuk memeriksa ke sana.


          “Bapak mau cari apa?” tanyaku langsung.
          “Kita harus periksa semua, Dik. Siapa tahu ada petunjuk,” kata petugas di depanku.


          Rekannya  membuka  kamar  kerja  Ayah.  Air  mukanya  langsung  segan.  Berjalan  saja
        susah di sana.

          “Saya rapikan dulu boleh, Pak? Ruangannya berantakan sekali. Besok Bapak bisa datang
        lagi,” aku menawarkan dengan senyum, semanis mungkin.

          Mereka  berpandangan.  Akhirnya,  petugas  itu  mengangguk.  Mereka  pun  pamit  pergi.
        Dari rumahku, mereka berencana memeriksa kebun dan rumah Abah di Batu Luhur. Saat
        itu sudah pukul 3.00 sore. Aku sangsi mereka betulan akan pergi ke kampung.

          Semalaman aku mengurung diri di ruang kerja Ayah. Membereskan berkas-berkasnya.

        Bermodalkan  intuisi  dan  pengetahuanku  yang  terbatas,  aku  memilah  mana  sampah  dan
        mana  yang  kelihatannya  penting.  Semua  yang  penting  aku  masukkan  ke  dus  dan
        kusembunyikan di kolong tempat tidurku. Semua yang sampah aku susun rapi di rak dan
        meja, menyulap mereka seolah-olah kelihatan penting.

          Buku-buku Ayah hanya kurapikan tanpa kusortir. Perasaanku mengatakan, bukan di sana
        ia menyimpan petualangan rahasianya, melainkan di carikan-carikan kertas yang ia jahit

        dan  ia  sebut  jurnal.  Ayah  punya  beberapa.  Yang  paling  penting  barangkali  sudah  ia
        selamatkan  dengan  memasukkannya  ke  kantong  belacuku.  Namun,  aku  merasa  perlu
        menyelamatkan  jurnal-jurnal  lamanya.  Aku  tak  ingat  persis  ada  berapa  jumlahnya,
        dugaanku sekitar empat. Jurnal dalam kantong belacuku adalah jurnal Ayah yang kelima
        sekaligus yang terakhir.

          Tak kutemukan jurnalnya yang lain. Satu pun.

          Entah  mengapa,  aku  merasa  berburu  dengan  waktu.  Intuisiku  berkata  untuk  pergi  ke
        rumah Abah di kampung sesegera mungkin.





        Pagi-pagi  buta,  aku  pergi  ke  Batu  Luhur.  Berharap  petugas-petugas  itu  belum
        mendahuluiku.  Aku  terlambat.  Rumah  Abah  sudah  digeledah  kemarin  sore,  dan  kata
        orang-orang yang melihat, petugas-petugas polisi itu membawa pergi beberapa dus barang
        Ayah.
   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51