Page 43 - Supernova 4, Partikel
P. 43

Tidak  pernah  ia  mengganti-gantinya  dengan  panggilan  non-ilmiah.  Apa  pula  itu  Jamur
        Guru?

          “Ayah cuma bisa percaya kamu, Zarah. Orang lain tidak ada yang mengerti.”

          Tentu saja. Cuma aku yang akan menelan semua ceritanya tanpa ragu. Tapi, justru saat
        itulah, ragu yang sebelumnya tak pernah ada mendadak membersit. Ayah bersikap tidak
        seperti biasanya. Ada yang aneh dan asing padanya, meski tak bisa jelas kudefinisikan.

          “Semua  ini  kuwariskan  untukmu.  Kamulah  penerus  Ayah  untuk  melindungi  Bukit

        Jambul, melindungi Jamur Guru.”

          Aku memandang berkeliling. Semua ini? Maksudnya, kertas-kertas berantakan ini?

          “Lapangan di puncak Bukit Jambul sudah ada sejak kali pertama Ayah ke sana. Dari
        dulu sudah banyak anomali di sana, Zarah. Setahun yang lalu, waktu portal itu membuka,
        aktivitas  di  sana  meningkat  luar  biasa.  Ayah  ingin  menelitinya.  Tapi,  semua  itu  bukan
        keahlian Ayah. Kemampuan Ayah terbatas. Ayah perlu dibantu banyak orang. Banyak ahli.
        Tapi, siapa yang mau percaya?” ratapnya.

          Setahun yang lalu? batinku. Tak tahan lagi aku bertanya, “Apa itu yang dimaksud Ibu

        waktu bilang Ayah pernah kesurupan—?”

          “Zarah,” sela Ayah keras, tangannya ikut menggenggam bahuku kencang. “Dengar baik-
        baik. Ayah TIDAK PERNAH kesurupan.”

          Terkesiaplah  aku  melihat  Ayah  mengejakan  kata-kata  itu  dengan  garang,  seolah
        akumulasi  kekesalannya  akibat  disalahpahami  terus-terusan  oleh  lingkungannya  selama
        ini siap diledakkan. Cepat, ia tersadar. Cengkeraman di bahuku mengendur. Matanya yang
        tadi sempat menyiratkan murka kini kembali dibayangi kesedihan, keputusasaan.

          “Apa yang bisa Zarah bantu, Yah?” aku bertanya sambil menggenggam tangannya.


          Ayah  menatapku  lurus-lurus.  “Kamu  punya  kemampuan  itu.  Ayah  sudah  tahu  sejak
        kamu kecil. Jamur Guru juga sudah mengonfirmasi. Kamu sanggup jadi mediator.”

          “A–apa itu?”

          “Ketika  manusia  yang  tidak  sadar  berubah  jadi  makhluk  sadar,  saat  itu  juga  dia
        terhubung  dengan  jaringan  informasi  yang  selama  ini  tersembunyi.  Informasi  penting
        tentang semesta ini akan mengalir tanpa ada yang bisa menyetop. Saat itulah manusia bisa
        berubah  jadi  pemelihara.  Sekarang  ini,  sedikit  sekali  manusia  yang  terhubung.  Hampir
        semuanya terputus dari jaringan. Mereka jadi penghancur karena akses mereka tertutup.

        Mereka  yang  sudah  terhubunglah  yang  punya  kesempatan  jadi  mediator,  menjadi
        jembatan untuk informasi itu.”

          “Informasi itu ada di mana, Yah?”

          “Fungi,” jawabnya tegas.

          “Jamur Guru?” aku menebak.

          Ayah mengangguk. “Juga beberapa tanaman lain. Enteogen, Zarah. Itu kuncinya. Itulah
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48