Page 50 - Supernova 4, Partikel
P. 50

Jurnal  ketiga,  Ayah  bicara  hal  lain  lagi.  Ia  menuliskan  perhitungan  kalender  Maya,
        menggambar  pola-pola  geometris,  simbol-simbol  aneh.  Ia  bahkan  menggambar  denah
        interior Piramida Giza, seolah ia pernah ke sana. Aku tahu pasti Ayah tidak pernah ke
        Mesir.  Aku  menduga  ini  hasil  rangkuman  risetnya  yang  ditulis  dengan  kesungguhan
        sehingga seakan-akan ia mengalami itu semua. Dengan kekaguman, panjang lebar Ayah

        menulis tentang Mesir kuno dan teknologi canggihnya.

          Jurnal  keempat,  Ayah  menulis  topik  yang  berbeda.  Satu  kata  di  halaman  pertamanya
        langsung  menyergapku:  enteogen.  Setelah  kubaca  lebih  lanjut,  barulah  aku  mengerti
        bahwa  enteogen  yang  dimaksud  Ayah  adalah  tanaman  dengan  zat  psikoaktif  yang  bisa
        mengubah  level  kesadaran  seseorang.  Dalam  jurnal  keempat  ini,  Ayah  menggambar
        banyak tanaman, struktur kimia, dosis, cara penggunaan, dan tak ketinggalan pula sejarah

        tanaman enteogen yang ternyata sudah dimulai ribuan tahun sebelum Masehi. Jurnal itu
        ditutup  dengan  kalimat  kesimpulan  yang  dituliskan  Ayah  dengan  guratan  tegas:
        Pengetahuan manusia akan dirinya sendiri dimulai dengan enteogen.

          Aku  menutup  halaman  terakhir  jurnal  keempatnya  itu  dengan  mulut  ternganga.  Satu
        demi satu sisi Firas yang tidak diketahui orang banyak, termasuk aku, mulai terungkap.
        Sedikit demi sedikit, mulai kupahami mengapa ia menarik diri dari kampus. Jelas terlihat
        minat Ayah bergeser jauh. Keempat jurnalnya menggambarkan perjalanan Ayah yang kian

        jauh tenggelam dalam dunia yang asing bagi kami semua. Puncaknya adalah jurnal dia
        yang terakhir.

          Jurnal  kelimanya,  yang  sengaja  ia  masukkan  ke  tasku,  seluruh  isinya  bagaikan  log
        seorang  kapten  yang  berlayar  ke  alam  antah  berantah.  Dicekam  kengerian,  aku
        menemukan bahwa Ayah ternyata memang hidup dalam dua dunia. Sebelah kakinya ada
        di tempat yang entah di mana.

          Dalam salah satu entri, Ayah menulis:

          Aku bertemu mereka lagi. Kali ini bentuk mereka lebih jelas terlihat. Tingginya kira-kira

        satu  meter,  kulitnya  abu-abu,  licin  tanpa  bulu.  Proporsi  kepala  mereka  sangat  besar
        dibandingkan  tubuhnya.  Mata  mereka  menonjol,  besar,  iris  mata  mereka  cokelat  gelap
        atau hitam, bagian sklera hampir tidak kelihatan, atau mungkin tidak ada. Hidung mereka
        tidak berbatang, hanya sepasang lubang tipis. Mulut mereka tampak seperti celah. Tidak
        berbibir.  Mereka  berinteligensi  tinggi,  aku  bisa  merasakannya.  Aku  curiga  pada  niat
        mereka. Ada hal yang mereka inginkan. Aku tidak merasakan kehangatan. Mereka belum
        tentu jahat. Tapi, mereka sangat dingin. Seperti robot.


          Ayah kemudian membuat sketsa di bawahnya:
   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55