Page 42 - Supernova 4, Partikel
P. 42

negeri ini. Tidak cuma Batu Luhur yang bisa menikmatinya, Zarah. Tapi juga Indonesia.
        Bahkan dunia.”

          “Harta apa, Yah?” Di otakku melintas cepat gambar peti harta karun berisi koin emas
        dan tiara bertatahkan batu mulia.

          “Portal, Zarah.”

          Gambar di kepalaku seketika pupus.

          “Dan  tidak  cuma  itu,  satu  pohon  Bukit  Jambul  adalah  rumah  bagi  puluhan  bahkan

        ratusan  spesies,  termasuk  fungi-fungi  langka  yang  punya  potensi  besar  menyelamatkan
        Bumi. Satu saja pohon di Bukit Jambul ditebang, semua spesies tadi ikut hilang. Tugas
        kita, Zarah, adalah melindungi hutan di Bukit Jambul dari manusia.”

          Ayah  menangkupkan  tangannya  di  pipiku,  berkata  sungguh-sungguh,  “Kita,  manusia,
        adalah virus terjahat yang pernah ada di muka Bumi. Suatu saat nanti, orang-orang akan
        berusaha meyakinkanmu bahwa manusia adalah bukti kesuksesan evolusi. Ingat baik-baik,
        Zarah.  Mereka  salah  besar.  Kita  adalah  kutukan  bagi  Bumi  ini.  Bukan  karena  manusia

        pada  dasarnya  jahat,  melainkan  karena  hampir  semua  manusia  hidup  dalam  mimpi.
        Mereka  pikir  mereka  terjaga,  padahal  tidak.  Manusia  adalah  spesies  yang  paling
        berbahaya karena ketidaksadaran mereka.

          “Manusia yang tidak sadar akan melihat Bukit Jambul sebagai lahan untuk tanam sayur,
        sebagai  bahan  furnitur  kayu,  sebagai  tempat  berburu  burung-burung  cantik  yang  bisa
        dijual ke orang kaya. Atau seperti abahmu dan orang-orang di kampung, Bukit Jambul
        dianggap  sebagai  sarang  setan.  Mereka  yang  melek  sedikit  mungkin  bisa  melihatnya

        sebagai kekayaan botani. Tapi sebetulnya, Bukit Jambul lebih dari itu semua.”

          “Waktu Adek lahir, Ayah ke mana?” Pertanyaan itu meluncur dari mulutku begitu saja.

          “Ayah di Bukit Jambul. Tapi, Ayah tidak kesurupan. Ada sesuatu yang terjadi. Portal itu
        membuka….”

          “D–dimensi lain?” tanyaku. Tanpa kutahu apa artinya.

          “Portal itu lama menutup karena mereka akhirnya sudah menemukan jalan lain. Mereka
        juga  ber-evolusi  seperti  kita.  Setahun  yang  lalu,  portal  itu  tiba-tiba  membuka.  Mereka
        ingin menunjukkan sesuatu kepada Ayah. Dan, Ayah diajak ikut masuk.”

          “Ayah ke mana? Mereka itu siapa?”

          “Ayah  tidak  pernah  kesurupan,  Zarah,”  ulangnya  lagi.  Matanya  berketap-ketip.  Ia

        mendongak, menggoyang-goyangkan kepalanya seperti ingin mengusir pening.

          “Ayah sehat? Ayah makan jamur lagi, ya? Jamur yang mana?” desakku. Kantong belacu
        dalam  kepalaku  seperti  mau  meledak.  Begitu  banyak  pertanyaan  yang  kebelet  mencari
        pasangan jawabannya.

          “Jamur Guru. Itu yang harus kamu lindungi. Sampai kapan pun, Zarah, jangan biarkan
        mereka membabat Bukit Jambul. Mereka yang tidak sadar tidak boleh masuk.”

          Ini sungguh ganjil. Kepadaku, Ayah selalu menyebutkan nama Latin untuk setiap fungi.
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47