Page 53 - Supernova 4, Partikel
P. 53

Tidak ada pilihan lain. Semoga suatu saat nanti mereka ingat. Aku ingat.

          Ingat apa? Siapa yang dimaksud dengan “mereka”? Perjanjian apa? Pikiranku berputar-
        putar mengitari kalimat-kalimat itu dan tak ketemu-ketemu.

          Sedikit demi sedikit, aku mulai bisa berempati kepada Ibu, Abah, dan Umi. Pada rasa
        frustrasi mereka. Sungguh tak mudah hidup bersama manusia seperti Ayah. Kehidupannya
        bagai  labirin  rahasia.  Jalan  pikirannya  tidak  terbaca.  Aku  tak  bisa  membayangkan  apa

        yang ia lalui hingga bisa menuliskan itu semua.

          Aku mulai memahami mengapa kedua kutub itu, Ayah dan Ibu, nyaris mustahil untuk
        bersatu. Ayah seolah melihat realitas dengan lensa yang berbeda dengan kami semua. Jika
        kami melihat langit ini biru, di mata Ayah langit tergambar oranye. Bukan salah langit,
        atau salah kami. Selama lensa yang dipakai berbeda, warna langit tak akan seragam bagi
        Ayah dan Ibu.

          Hingga suatu malam di tempat tidur, aku berhenti menangis. Melihat tumpukan jurnal
        dan berkas-berkas Ayah yang berhasil kuselamatkan dalam dus, mendadak hatiku kecut.

        Aku merasa begitu kecil dan tak tahu apa-apa. Aku juga berhenti melihat foto-fotoku. Aku
        muak berduka. Aku pun harus beradaptasi. Tak bisa terus-terusan begini.

          Untuk  memahami  isi  jurnal  Ayah  demi  melanjutkan  pencarianku,  tak  bisa  lagi  aku
        mengandalkan kemampuan sendiri. Aku harus naik tingkat. Ilmuku harus bertambah. Dan,
        kini aku tak punya guru lagi. Ke mana aku harus mencari?

          Esok paginya, Ibu, Umi, dan Abah sedang sarapan di meja makan. Kuhampiri mereka
        sambil menguatkan hati.

          “Ibu,”  panggilku.  Ketiganya  otomatis  menoleh.  Jantungku  berdebar  kencang.  “Zarah

        mau sekolah.”

          Hening cukup lama mengapung di ruangan hingga akhirnya dipecah oleh seruan Umi,
        “Subhanallah!”

                                                                                                             11.

        Ibu memilihkanku sekolah swasta terkenal yang punya jenjang lengkap dari SD sampai
        SMA. Usiaku menjelang tiga belas, tepat di perbatasan antara SD dan SMP. Tetapi, tidak
        ada yang tahu persis kemampuanku.

          Kami datang ke sana tanpa selembar pun rapor atau ijazah. Sang Kepala Sekolah, pria

        berpeci dan bersafari necis bernama Pak Yusuf, terlongo-longo ketika Ibu bilang aku tak
        pernah sekolah sebelumnya.

          “Kenapa bisa sampai begitu, Bu?” tanyanya heran.

          “Dulu,  ayahnya  yang  bersikeras  mengajar  anak-anaknya  sendiri  di  rumah.  Tapi  saya
        yakin,  Zarah  menguasai  pelajaran  melebihi  rata-rata  siswa  seumurnya,”  Ibu  berkata
        mantap. “Silakan dites.”

          Nama  Ayah  dan  titel  dosennya  agaknya  cukup  meyakinkan  sehingga  aku  akhirnya
        diperbolehkan  ikut  tes.  Atas  permintaan  ibuku,  mereka  memberikan  variasi  soal  mulai
   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58